<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>L'arriviste Excentrique &#187; Indonesian</title>
	<atom:link href="http://infinite.inficio.info/category/indonesian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://infinite.inficio.info</link>
	<description>I N F I N I T E * I N F I C I O~</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Aug 2010 02:52:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sedikit Berspekulasi&#8230;</title>
		<link>http://infinite.inficio.info/2010/05/17/sedikit-berspekulasi/</link>
		<comments>http://infinite.inficio.info/2010/05/17/sedikit-berspekulasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 15:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
				<category><![CDATA[College]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infinite.inficio.info/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Pembicaraan (mendekati monolog) antara saya dan teman dekat saya, Nona F. C. yang namanya tidak saya sensor karena memang tidak perlu diperlakukan demikian&#8230; Sedikit spekulasi tentang suatu pilihan yang dapat diambil (namun tampaknya tak akan). Infinite Inficio: satu SKS itu 50 menit ya? Felisia Kelara  : Yap +- Infinite Inficio: kalau minimal ngambil 12&#8230; 50 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Pembicaraan (mendekati monolog) antara saya dan teman dekat saya, Nona F. C. yang namanya tidak saya sensor karena memang tidak perlu diperlakukan demikian&#8230; Sedikit spekulasi tentang suatu pilihan yang dapat diambil (namun tampaknya tak akan).</div>
<div><span id="more-294"></span></div>
<blockquote>
<div>Infinite Inficio: satu SKS itu 50 menit ya?</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Yap +-</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: kalau minimal ngambil 12&#8230; 50 x 12 = 600 jam per minggu?</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: belum termasuk praktikum&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: sehari bilang aja kuliah 5 SKS&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: bisa dipadatin ke tiga hari&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Apa itu?</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: memperkirakan kuliah&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: seandainya aku nanti ngambil dua, itu sebenarnya bisa atau nggak&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: kayaknya berat&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: TPB&#8230; 36 SKS&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: itu dibagi dua dong ya</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: jadi 18 SKS</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: tapi satu SKSnya berapa ya&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: itu minimalnya</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: 18 x 50 = 900 jam per minggu&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: sehari kira-kira 5 SKS&#8230; sekitar empat hari</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: haiyahh</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: Elektro ga ada kelas malam sih&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: dijumlah aja kali ya&#8230; 1500 jam per minggu di kelas, secara teoretis harusnya sekitar 1500 jam juga belajar mandiri, dan 1500 jam lagi nugas</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: astaga</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: kok jam</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: menit lah -__-</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: kalau jam mah keterlaluan</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: 75 jam seminggu, minimal, tersita untuk kuliah</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: Senin sampai Sabtu cuma ada 161 jam&#8230; 168 lah kalau ngitung Minggu</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: tiap hari tidur kurang lebih 7 jam, 49 jam&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: dikurangi waktu kuliah dan waktu tidur, nyisa 37 jam</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: bagi 7, kurang lebih ada 5 jam per hari tersisa&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Infinite Inficio: anggap tersita 2 jam per hari di perjalanan (minimal), berarti 3 jam tersisa&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Hah?!</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Ngitung apa lu teh man?</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Stress siah mau kul sgitu lama shari</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Nyante lah</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Mau ngejer nile heeuh?</div>
<div id="_mcePaste">Felisia Kelara  : Ato ngejer ilmu?hahah</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infinite.inficio.info/2010/05/17/sedikit-berspekulasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosen di Mata Kita</title>
		<link>http://infinite.inficio.info/2010/05/13/dosen-di-mata-kita/</link>
		<comments>http://infinite.inficio.info/2010/05/13/dosen-di-mata-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 05:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
				<category><![CDATA[College]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infinite.inficio.info/2010/05/13/dosen-di-mata-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama tidak menuliskan update [konstruktif] di blog saya yang malang ini, akhirnya saya kembali… Untuk apa? Yaa, anggap saja sebagai pelarian dari kehidupan riil saya yang akhir-akhir ini bisa terhitung hectic, chaotic, dst. dst… Dan kali ini pun saya kembali dengan sejumlah topik pembicaraan yang  tergolong tidak penting, namun masih lebih penting dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sekian lama tidak menuliskan <em>update</em> [konstruktif] di blog saya yang malang ini, akhirnya saya kembali… Untuk apa? Yaa, anggap saja sebagai pelarian dari kehidupan riil saya yang akhir-akhir ini bisa terhitung <em>hectic</em>, <em>chaotic</em>, dst. dst… Dan kali ini pun saya kembali dengan sejumlah topik pembicaraan yang  tergolong tidak penting, namun masih lebih penting dari kunjungan saya ke seorang grafolog, dermatolog, atau apapun lah.</p>
<p>Tumben-tumbennya saya menuliskan hal yang berbau curhat dalam bahasa Indonesia, <em>but here goes</em>… Tentu, agar tidak ada yang merasa tersinggung, semua nama disensor dan TIDAK berdasarkan inisialnya. Mungkin yang satu jurusan dengan saya saja yang akan mampu menerka, haha…</p>
<p><span id="more-287"></span></p>
<p>Sebagaimana masyarakat pada umumnya, dosen juga terdiri atas individu-individu yang memiliki sifat dan karakteristik beragam… Bilang saja ada Dosen A yang lekturnya membuat mahasiswa berbondong-bondong mencari kursi paling depan, ada pula Dosen B yang lekturnya justru bisa membuat mahasiswa angguk-angguk hampir tertidur, atau Dosen C yang malah tidak didengarkan sama sekali oleh mahasiswa yang sibuk mengerjakan laporan/tugas praktikum ketimbang memperhatikan (saya juga pernah berbuat ini sih, haha…).</p>
<p>Tampaknya tiap dosen sudah memiliki suatu “karakteristik” khusus yang membuat mereka “dikenang” oleh mahasiswa… Misalkan, ada Dosen D yang konon menilai ujian berdasarkan panjang jawabannya, bukan bobotnya (sampai ada yang berkomentar bahwa ybs menilai dengan menggunakan penggaris, bukan dengan membaca hasil pekerjaan mahasiswa, haha). Ada juga Dosen E yang bahkan tidak mengecek pekerjaan mahasiswa, namun langsung memberikan nilai bagus entah via randomisasi atau via apa. Pada ujung spektrum satunya, jangan harap Dosen F akan cukup bermurah hati untuk memberikan nilai sebagai ongkos tulis… Salah tetap salah, walaupun hanya salah satu desimal atau salah di tengah jalan. Beliau tidak segan-segan memberikan nilai nol</p>
<p>(bahkan, ada salah satu teman saya, D, yang berkomentar kalau ybs “justru bangga kalau muridnya pada nggak bisa!”. Yaa, memang beberapa tindakannya menguatkan hipotesis ini, sih… <img src='http://infinite.inficio.info/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /> )</p>
<p>Yaa, yang di atas tentang A, B, C, D, E, F hanyalah contoh kasus, namun saya rasa mahasiswa yang lain juga memiliki perasaan serupa tentang dosen-dosennya sendiri, mengkategorikan mereka ke dalam kotak-kotak karakteristik seperti ini… dan ini yang membuat saya berpikir…</p>
<p>Apakah mereka tidak tahu kalau mahasiswa mereka telah memadankan mereka dengan suatu karakteristik itu?</p>
<p>Saya rasa tidak mungkin Bu C tidak menyadari bahwa dirinya tidak diperhatikan… Saya mencoba untuk menyumbangkan pendapat tiap kali beliau meminta muridnya untuk berbuat demikian, namun saya rasa tidak mungkin beliau tidak melihat mahasiswa yang meremehkannya (saya sendiri sebenarnya tidak memiliki opini yang begitu tinggi akan ybs, ahah…) atau mata kuliahnya yang tergolong “nggak penting”, atau bisa dibilang tidak merespeknya dengan melakukan pekerjaan lain di kala mata kuliahnya (dan saya sendiri juga beberapa kali melakukan ini… agak merasa bersalah juga). Mungkin pengendalian dirinya cukup baik untuk tidak menunjukkan rasa kesalnya walau tidak diperhatikan.</p>
<p>Apakah Bu D yang dengan eksplisit memberitahukan muridnya bahwa ‘yang tulisannya terpanjang nilainya paling tinggi’ tahu kalau desas-desus “Sudahlah, yang penting tulis saja sampai berlembar-lembar, kamu tulis curhatan juga si Ibu nggak akan baca…” teredar di kalangan mahasiswa, dan pernah berpikir untuk merevisi caranya? Atau apakah beliau membiarkan imej itu melekat pada dirinya? Atau beliau benar-benar tidak tahu sama sekali?</p>
<p>Bagaimana dengan Pak E, yang (saya pribadi rasa) “kebaikan”-nya dalam hal absensi, nilai, dsb. dimanfaatkan oleh mahasiswanya? Apakah beliau tidak pernah merasa diremehkan ketimbang dihormati karena rasa belas kasihannya membuat dia tidak tega memberikan nilai jelek pada mahasiswa? Apakah beliau puas dicap sebagai dosen yang “pasti nilainya nggak akan di bawah blablaa…”?</p>
<p>Dalam pembicaraan saya dengan ybs, saya sedikit menyiratkan tentang sebagaimana “santai” beberapa teman saya menganggap ujiannya (dan kemudian terbukti dari nilai yang cukup memuaskan dari beliau untuk UTS lalu) via email, dan saya dibalas dengan, “<em>I’m not so easy, am I? <img src='http://infinite.inficio.info/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' />”</em></p>
<p>Tidak yakin apakah beliau bercanda atau tidak, saya hanya membalas: “<em>I’m not sure about you, but I know your questions aren’t…”</em></p>
<p><em>And I still wonder whether he was being serious or not…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infinite.inficio.info/2010/05/13/dosen-di-mata-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbincang dengan Guru</title>
		<link>http://infinite.inficio.info/2009/04/24/berbincang-dengan-guru/</link>
		<comments>http://infinite.inficio.info/2009/04/24/berbincang-dengan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 15:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[bocoran soal]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[nyontek]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infinite.inficio.info/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Reportase: Ujian Nasional angkatan 2008/2009 Sebagai salah satu murid kelas 12 SMA Negeri ** Bandung, tentu saya mengikuti satu-satunya jalan keluar dari SMA itu. Gerbang exit itu adalah Ujian Nasional. Ujian yang dianggap terlalu serius oleh orang yang setiap hari mengomel tentang batasan nilai dan mengutarakan berbagai macam alasan mengapa lazim bagi mereka untuk menyontek. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Reportase: Ujian Nasional angkatan 2008/2009</p>
<p>Sebagai salah satu murid kelas 12 SMA Negeri ** Bandung, tentu saya mengikuti satu-satunya jalan keluar dari SMA itu. Gerbang <em>exit</em> itu adalah Ujian Nasional. Ujian yang dianggap terlalu serius oleh orang yang setiap hari mengomel tentang batasan nilai dan mengutarakan berbagai macam alasan mengapa lazim bagi mereka untuk menyontek. Ya, karena ini lah, itu lah, seakan-akan seangkatan tidak menghadapi hal yang sama. Sekarang, kembali ke hari Rabu.</p>
<p><span id="more-237"></span></p>
<p>Ruangan 12; ruangan saya. Yang diujiankan hari itu adalah Matematika, bukan pelajaran yang dianggap enteng. Tetapi seperti dua hari sebelumnya, ada penyelamat yang datang dalam bentuk kunci jawaban. Konon, kunci jawaban ini berasal dari &#8220;orang dalam&#8221; dinas. Mayoritas orang di setiap kelas di angkatan saya mendapatkan kunci jawaban ini, tetapi saya bahkan tidak diberitahu apa-apa soal ini. Mungkin yang lain juga sudah tahu kalau saya ogah ditawari kunci jawaban.</p>
<p>Jam delapan, bel berbunyi, menandakan bahwa kami boleh membuka buklet soal. Yang lain sudah siap menyelipkan HP, atau kertas kecil berisi kunci jawaban pada tempatnya. Saya mengerjakan langsung pada soal, karena kebiasaan saya mengunakan kertas kotretan untuk menggambar. Untuk beberapa, saya bisa langsung mengerjakan, tetapi beberapa lain-seperti menghitung luas segiduabelas atau mengukur jarak pada ruang 3D-langsung saya lewati tanpa pikir lanjut.</p>
<p>Karena melupakan banyak rumus praktis (&#8216;carcep&#8217; &#8211; cara cepat <img src='http://infinite.inficio.info/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /> ) dan memang tidak berniat untuk mengingat, saya banyak mengerjakan soal dengan penalaran rumus dasar seadanya. Alhasil, ketika bel berbunyi, saya yang paling buntut selesai, tepat ketika bel berbunyi. Menghela napas pasrah, saya mengambil tas saya dari depan kelas, dan mulai beres-beres.</p>
<p>Di ruangan lain, teman saya LI pun telah selesai melalui ujian Matematika. Dia lebih kesusahan dari saya, terutama karena pelajaran itu memang bukan andalannya seperti Kimia. Belakangan ia katakan pada saya, &#8220;Aku memang bilang bahwa paling bisa jawab dua puluh [dari empat puluh] sudah cukup, tapi aku nggak benar-benar serius pas mengatakannya.&#8221; Namun, hal itupun menjadi kenyataan. Sebelum keluar dari ruangan, teman sekelasnya bertanya,</p>
<p>&#8220;LI, kamu bisa nggak tadi?&#8221;</p>
<p>Dengan agak pasrah, LI pun menjawab bahwa dirinya mungkin hanya bisa mengerjakan setengah dari total soal yang ada. Mendengar ini, temannya pun entah mencoba menghibur atau apa dengan, &#8220;Oh, nggak apa kok LI, aku juga tadi cuma bisa tujuh-belas soal&#8230; Coba aja nggak ada kunci jawaban, mati deh aku.&#8221;</p>
<p>LI itu memiliki prinsip anti-nyontek yang sama dengan saya. Mengingat bahwa dirinya cukup kewalahan dengan soal Matematika itu, tentu wajar bila ia geram mendengar ujaran santai dari temannya ini. Pada akhirnya, saya dan LI pun mendatangi AJ yang berada dalam kondisi lebih parah: ya&#8230; dari cara jalannya, kelihatannya rohnya baru disedot keluar dari jasadnya. <img src='http://infinite.inficio.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> <em>Cheer up, AJ&#8230;</em></p>
<p>Memenuhi panggilan perut, kami bertiga menuju deretan warung makan dekat sekolah, memotong jalan dengan melalui Mesjid S. Disinilah kami bertemu dengan seorang guru yang saya kenal, karena pernah menggantikan guru Matematika saya dan LI yang dulu sempat sakit. Beliau adalah seorang bapak-bapak yang tampaknya berumur sekitar lima-puluhan, dan mengenakan kacamata. Wajahnya terlihat ramah, dan gaya mengajarnya memang lebih &#8216;lembut&#8217; ketimbang beberapa guru. Kami bertiga menyapa/disapa olehnya, saya lupa urutannya. Pada intinya, beliau mengajak kami berbincang-bincang, dengan basa-basi topik terkini: &#8220;Bagaimana tadi ulangannya?&#8221;</p>
<p>Bapak guru itu, sebut saja Pak X, menjelaskan bahwa dirinya tidak diizinkan memasuki wilayah sekolah (berhubung beliau guru Mat. juga, mungkin? Pak X adalah seorang guru Matematika IPS, jadi saya kurang kenal juga), sehingga yang bisa dilakukannya hanya keliling di sekitar daerah mesjid saja.</p>
<p>Saya pun langsung bercerocos tentang bagaimana banyak kecurangan terjadi hari ini, tidak lupa memberitahukan bahwa beberapa guru mendukung atau bahkan memberi tips untuk nyontek kala ujian. LI dan AJ tidak kalah, mendeskripsikancara-cara yang digunakan teman-teman seangkatan untuk menyembunyikan &#8220;senjata&#8221;-nya. &#8220;Anak-anak jaman sekarang pintar kalau mikirin cara nyontek, Pak. Coba saja mereka mengalihkan usaha mereka ke belajar, pasti nilainya juga bisa bagus,&#8221; saya komentar dengan kesal. Maklumi jugalah kekesalan saya, karena minggu lalu saya harus ikut-ikutan doa bersama seangkatan dimana yang lain menangis-nangis bertobat ala pelatihan ESQ hanya untuk berbuat dosa minggu berikutnya.</p>
<p>Respon pertama dari Pak X itu adalah rasa terkejut. Beliau mengatakan bahwa memang pernah tahun lalu terjadi (seorang murid yang untuk ulangan sehari-hari saja remedial berkali-kali, namun pada UN Matematika mendapatkan nilai 100. Belakangan si murid itu mengakui, namun, hmm&#8230; bapaknya tidak melapor? Ujarnya, &#8220;Ya, saya pikir, tidak akan terjadi lagi tahun ini&#8230;&#8221; Benarkah demikian?)</p>
<p>Sayapun makin bersemangat untuk berdakwah tentang topik favorit saya ini.  Dengan menggebu-gebu, saya mengucapkan banyak hal, seperti, &#8220;Seandainya tidak ada yang nyontek, bila semuanya dapat nilai jelek, kan nanti dinasnya juga lihat kalau soalnya kesusahan toh? Ini juga standar nilai naik gara-gara orang membohongi diri, seakan-akan mereka bisa mendapatkan nilai segitu.&#8221;</p>
<p>Bapak X mengiyakan, sekaligus mengutak-atik HP. Lalu beliau bercerita bahwa di kelas IPS yang diajarinya pun, banyak yang meminta bocoran soal darinya. Dan dia pun berkata, &#8220;Ya, darimana saya bisa dapat soal? Soal juga baru datang dari dinas pada pagi sebelum ujiannya. Yang mungkin sih, kalau orang dinas kan bisa menyelundupkan satu amplop keluar, tinggal disebarin ke sekolahnya.&#8221; Sepertinya beliau membicarakan apa yang benar-benar terjadi tahun lalu.</p>
<p>Saya sudah kegirangan duluan, menganggap ini sebagai tanda bahwa mungkin beliau sealiran sama saya, sama-sama anti-nyontek. Berhubung banyak guru pun sama pedulinya dengan reputasi sekolah sebagaimana murid peduli dengan kelulusan, dan keduanya pun tidak masalah mesti membohongi diri demi itu.</p>
<p>Kami terus mengobrol tentang topik yang satu itu, walau mungkin pembicaraan dimonopoli saya yang menggebu-gebu. Mulai merasa terbuka, saya pun memberitahukan &#8220;misi&#8221; saya kepada Pak X: untuk mendapatkan nilai lebih tinggi dari mereka yang menggunakan kunci jawaban. Demi membuktikan bahwa kejujuran itu tidak selalu tertindas di dunia dimana mayoritas orang memilih jalan belakang.</p>
<p>Di tengah pembicaraan tentang bagaimana kunci jawaban belum tentu benar, Pak X menanyakan tentang keakuratan kunci jawaban ini. LI mengatakan bahwa ada temannya yang konon telah membandingkan kunci jawaban dengan jawabannya; hasilnya positif, alias cukup akurat untuk menjamin nilai 7-8, bila tidak lebih.</p>
<p>Bapak X mulai main HP lagi; mengirim SMS barangkali? Kemudian, tampak bahwa beliau sepertinya memiliki urusan lain. Saya, LI, dan AJ juga mulai merasa bahwa perbincangan kami sudah cukup lama jalannya. Kami pun mengucapkan permisi kepada beliau untuk mengakhiri pembicaraan. Pak X mengangguk, namun dia pun menambahkan pesan selamat tinggal bagi kami,</p>
<p>&#8220;Ya&#8230; tapi kalau kalian dapat kunci jawaban, dan ternyata benar, ambil aja.&#8221;</p>
<p>Saya yang tidak begitu mendengarkan, hanya mengangguk dan tertawa pelan, menggumamkan, &#8220;Hahaha, iya, Pak.&#8221; Baru beberapa saat kemudian saya telat menyadari apa yang diucapkan bapak guru itu. Dengan terbata-bata, saya mencoba membantah, &#8220;E-Eh, Pak&#8211;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230; anggap saja rezeki. Walau melawan hati nurani sekalipun.&#8221;</p>
<p>Saya tetap memasang wajah sopan, namun dalam hati, saya sudah berpikir &#8220;WHAT THE HELL?!!&#8221; Baru saja kami berempat berbicara panjang lebar tentang hilangnya kejujuran dan usaha keras dalam generasi muda sekarang, dan tiba-tiba, bapak ini sudah menjadi perwujudan guru yang saya sindirin dalam pembicaraan. Jangan-jangan bapak ini cuma mengikuti arus saja mengiyakan prinsip saya.</p>
<p>Baru mengumpulkan pikiran yang tercerai-berai, saya menyahut pada Pak X yang sudah berjalan pergi, &#8220;Tetapi, Bapak, saya lebih percaya dengan kemampuan sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>Entah beliau tidak mendengar, atau sengaja tidak mendengarkan saya. Yang jelas, beliau tidak menoleh balik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infinite.inficio.info/2009/04/24/berbincang-dengan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segitiga Cinta</title>
		<link>http://infinite.inficio.info/2008/12/30/segitiga-cinta/</link>
		<comments>http://infinite.inficio.info/2008/12/30/segitiga-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 12:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[robert sternberg]]></category>
		<category><![CDATA[triangular theory of love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infinite.inficio.info/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Bukan, bukan cinta segitiga, atau topografi jaringan hubungan antar manusia lainnya. Yang saya maksud dengan Segitiga Cinta adalah teori triangular cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg. Dan ini tidak hanya meliput cinta antar kekasih, tetapi antar seseorang dengan semua lainnya dalam social circle dirinya.   Berdasarkan teori ini, cinta yang sempurna selayaknya terdiri dari tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://infinite.inficio.info/wp-content/uploads/lovetriangle.jpg"><img class="size-medium wp-image-226  aligncenter" title="lovetriangle" src="http://infinite.inficio.info/wp-content/uploads/lovetriangle-300x238.jpg" alt="lovetriangle 300x238 Segitiga Cinta" width="300" height="238" /></a></p>
<p>Bukan, bukan cinta segitiga, atau topografi jaringan hubungan antar manusia lainnya. Yang saya maksud dengan Segitiga Cinta adalah teori triangular cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg. Dan ini tidak hanya meliput cinta antar kekasih, tetapi antar seseorang dengan semua lainnya dalam <em>social circle</em> dirinya.   <span id="more-222"></span></p>
<p>Berdasarkan teori ini, cinta yang sempurna selayaknya terdiri dari tiga komponen utama: intimasi, komitmen dan *ehem* &#8220;hasrat <span style="text-decoration: line-through;">atau nafsu nih?</span>&#8220;. <em>Intimacy, Commitment, Passion.</em> Dengan penjelasannya sebagai berikut.</p>
<ul>
<li><strong>Intimasi</strong> (<em>Intimacy</em>): Apa itu intimasi? Intimasi dapat didefinisikan rasa kedekatan dan memiliki suatu hubungan istimewa, atau benar-benar &#8220;nyambung&#8221; dengan seseorang. Yang utama, merasa dekat dan nyaman dengan orang tersebut, sehingga bisa terbuka di hadapannya.</li>
<li><strong>Komitmen</strong> (<em>Commitment</em>): Komitmen adalah ikatan; resmi maupun tidak, dari kehendak orangnya, ataupun tidak. Dua orang yang ber-&#8221;komitmen&#8221; dengan satu sama lain telah memutuskan untuk tetap bersama secara jangka panjang, dan juga berbagi rencana dan keberhasilan masing-masing dengan yang lain.</li>
<li><strong>Hasrat</strong> (<em>Passion</em>): Err&#8230; suatu perasaan yang (sebagian besarnya) mengarah ke <em>romance</em>, ketertarikan secara fisik dan juga berbagai keinginan seksual. Hal yang membuat suatu hubungan menggairahkan/menegangkan (secara positif). Atau dalam artian luas, apa yang membuat seseorang ingin meneruskan hubungan.</li>
</ul>
<p>Dalam tipikal manusia, ketiga komponen itu tentu kadarnya tidak akan semua sama seimbang, atau identik dengan milik orang lain; dan senantiasa berubah-ubah. Kadar tiap komponen yang ada dapat menentukan &#8220;kadar&#8221; cinta yang kita miliki, sementara komponen mana yang kadarnya lebih besar ketimbang yang lain dapat menentukan &#8220;jenis&#8221; cinta yang kita miliki.</p>
<p>Cinta yang hanya terdiri dari satu komponen tidak akan dapat bertahan selama cinta yang terdiri dari dua, atau semua komponen yang ada.  Dan apa saja jenis cinta yang ada? Berdasarkan komponen apa saja yang ada dalam hubungan bersangkutan, ada tujuh jenis cinta (tidak menghitung &#8220;bukan cinta&#8221;), yang akan disajikan dalam bentuk tabel terlebih dahulu untuk mempermudah:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-225  aligncenter" title="lovetriangletable" src="http://infinite.inficio.info/wp-content/uploads/lovetriangletable.jpg" alt="lovetriangletable Segitiga Cinta" width="448" height="348" /></p>
<p>Dengan uraiannya sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Bukan cinta:</strong> <em>Nonlove</em>, sudah jelas. Tidak ada hubungan atau bahkan rasa dekat antara kedua orang ini. Alias, tidak ada cinta.</li>
<li><strong>Persahabatan/Suka:</strong> <em>Friendship/Liking, </em>yang bukan asal sahabat ataupun asal suka. Dalam hubungan ini, intimasi dan kedekatan telah menimbulkan rasa suka bersama dengan satu sama lain, hingga taraf menjadi sahabat sejati dimana segala keresahan, kebahagiaan, dan perasaan lainnya bisa dituangkan masing orang kepada yang lainnya dengan bebas. Bila dari Persahabatan tumbuh hasrat atau diadakan komitmen, maka persahabatan bisa berubah ke bentuk cinta lainnya. Bila salah satu/kedua unsur lain itu belum ada, maka belum bisa ada hubungan romantis antara dua orang ini.</li>
<li><strong>Cinta hampa:</strong> <em>Empty love.</em> Beberapa menganggap cinta hampa sebagai bentuk akhir dari cinta lain yang telah kehilangan salah satu unsur penyokongnya (namun belum dapat mengakhiri hubungan karena berbagai alasan: sebagai contoh, karena orang itu bergantung pada orang satunya secara finansial), dan komitmenlah yang tersisa sebagai perekat.
<p>Namun di bukunya, Sternberg sendiri juga menganggap bahwa cinta yang hampa/kosong (<em>empty</em>) juga dapat diartikan sebagai cinta yang masih bisa di-&#8217;isi&#8217;, hingga berubah ke cinta tingkat lain. Oleh karena itu, cinta ini lebih relevan dengan pasangan yang ditempatkan pada suatu komitmen secara paksa (lewat perjodohan, dan sebagainya) pada awalnya, sebelum cinta bentuk lain tumbuh. Cinta hampa juga menandakan awal, bukan hanya akhir.</li>
<li><strong>Infatuasi: </strong><em>Infatuated love</em>, cinta dimana hanya unsur hasrat saja yang ada. Tidak ada intimasi, sehingga perasaan yang ada hanya untuk menjalin cinta, tanpa mencari <em>emotional support</em>. Tipikalnya cinta ini adalah &#8216;cinta pada pandangan pertama&#8217;. Biasanya disertai dengan perasaan berdebar-debar dan respon secara fisik lainnya terhadap yang ditaksiri (Ehem!!), dan lebih mudah bagi yang lain untuk melihatnya daripada orang itu sendiri.
<p>Seiring waktu, pasangan dengan cinta semacam ini bisa menjadi asmara dengan munculnya intimasi. Tanpa sokongan dua unsur lain, hasrat yang sebelumnya ada bisa menghilang dengan mudah. Sementara bila tidak ada balasan dari pihak lain, cinta ini bisa menjadi cinta, atau obsesi yang bertepuk sebelah tangan&#8230; tanpa benar-benar mengenali orang yang disukai ini.</li>
<li><strong>Asmara:</strong> <em>Romantic love.</em> Cinta tipe ini sudah mulai memiliki dua komponen; intimasi, dan hasrat. Dua individu yang telah menjalin asmara terikat baik secara emosional maupun fisik, karena keduanya sudah merasa dekat dengan yang lainnya sebagai sahabat baik namun keduanya juga tertarik untuk mengekspresikan kedekatan/cintanya dengan tindakan fisik, dan secara fisik juga terangsang.
<p>Yang kurang dari hubungan tipe ini adalah komitmen sebagai perekat dalam jangka panjang, karena keduanya mungkin tidak berkeinginan untuk menetapkan hubungan mereka sebagai sesuatu yang akan diteruskan untuk kemudian hari. Cinta tipe ini sepertinya dapat diasosiasikan dengan <em>fling</em>.</li>
<li><strong>Pendampingan: </strong><em>Companionate love.</em> Kedua orang ini memiliki komitmen terhadap satu sama lain, dan mereka pun merasa dekat dan dapat mempercayai satu sama lain, namun satu-satunya hal yang kurang adalah &#8216;hasrat&#8217;. Cinta jenis ini lebih kuat dari sekedar persahabatan, karena ada komitmen yang mempertahankannya secara jangka panjang. Banyak pasangan yang sudah sangat lama bersama pada akhirnya kehilangan <em>passion</em>, namun keduanya masih erat dengan satu sama lain secara emosional.
<p>Cinta semacam inilah yang juga yang idealnya ada antara orang tua-anak atau keluarga (yang intimat secara emosional, dan terikat hubungan darah/persaudaraan). Cinta jenis ini juga bisa ada dalam persahabatan yang benar-benar kukuh, dimana ada &#8216;komitmen&#8217; untuk terus bersama.</li>
<li><strong>Cinta gegabah: </strong><em>Fatuous love.<strong> </strong></em>Sejujurnya, saya bingung menerjemahkan ini. Karena definisi <em>fatuous</em> sendiri adalah: bodoh, bebal, dan kawan-kawannya. Namun saya rasa dalam konteks ini, gegabah lebih tepat daripada &#8216;cinta bodoh&#8217;. Ini tipikal cinta yang ada di Hollywood dengan nama <em>whirlwind romance</em>, dimana rasa suka muncul secara tiba-tiba, PDKTnya pun berlalu dengan cepat, dan tiba-tiba <em>wham! </em>Kedua orang itu sudah berkomitmen alias menikah.
<p>Biasanya cinta ini perginya sama cepat dengan datangnya, karena tidak ada basis dalam tahapan &#8216;jatuh cinta&#8217; dengan orang satunya (berhubung belum ada hubungan intimat antara keduanya sebelumnya). Komitmennya datang dengan terburu-buru sebagai akibat hasrat yang kuat untuk menjalin cinta, tanpa intimasi yang butuh waktu untuk dikembangkan. Namun bisa jadi dalam hubungan ini intimasi terbentuk belakangan, dan hanya dengan itu cinta tipe ini akan bertahan.</li>
<li><strong>Cinta sempurna: </strong><em>Consummate love,</em> yang tidak hanya lengkap dengan ketiga komponen cinta, tetapi juga melengkapi kedua orang yang memilikinya. Inilah cinta &#8216;sempurna&#8217; yang didambakan orang, dimana pasangan yang bersangkutan berada dalam suatu komitmen yang akan bertahan, merasa dekat + intimat dengan satu sama lain, dan juga tetap memiliki ketertarikan fisik/seksual terhadap satu sama lain! Pasangan dengan tipe cinta ini bisa melalui masalahnya bersama dengan mudah, dan seusainya masih tetap cinta berat dengan satu sama lain.Tetapi cinta tipe ini tidak bertahan selamanya tanpa usaha. Menurut Sternberg, mempertahankan cinta yang sempurna ini jauh lebih sulit daripada mencapainya. Bila <em>passion</em> dalam suatu hubungan telah hilang, cinta ini akan turun pangkat menjadi <em>companionate love</em>. Jelas, butuh usaha untuk mempertahankan cinta tipe ini. (Perlu diingat bahwa bagi pasangan yang sudah sangat lama bersama, hilangnya <em>passion </em>itu wajar, karena memang hasrat tidak akan selamanya ada dalam diri manusia)</li>
</ul>
<p>Dan faktor utama yang dibutuhkan dalam upaya mempertahankan cinta yang sempurna (menurut Sternberg) adalah: ekspresi! <em>&#8220;&#8221;Without expression, even the greatest of loves can die,&#8221;</em> ujarnya. Agar cinta bertahan, kita harus selalu ingat untuk mengekspresikannya pada orang yang kita cintai. Bila tidak, bisa jadi orang yang bersangkutan merasa tidak dicintai, dan kemudian enggan untuk mengekspresikan cintanya pada kita. Dan bila rasa kesal karena merasa tidak dicintai terus dipendam, saya rasa perasaan tidak enak itu akan mengendap, dan akhirnya cinta pun hilang dari diri kita.</p>
<p>Ya, mungkin dengan ini dapat menentukan tipe cinta apa yang sedang dialami. Ngomong-ngomong, tidak selalu harus mengincar untuk mengubah tipe cinta yang ada menjadi <em>consummate love</em>. Kadang-kadang, memang ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Kalau menurut observasi saya bila ingin menjalin <em>romantic relationship</em>, sepertinya &#8220;Passion&#8221; adalah faktor yang penting (karena tanpa ini, hubungan menjadi platonik, sepertinya).</p>
<p>Ahh&#8230; cinta itu hal membingungkan&#8230;</p>
<p>*nggak jelas maksudnya apa*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infinite.inficio.info/2008/12/30/segitiga-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAT is a Snap</title>
		<link>http://infinite.inficio.info/2008/12/22/sat-is-a-snap/</link>
		<comments>http://infinite.inficio.info/2008/12/22/sat-is-a-snap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 12:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Inficio</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[SAT]]></category>
		<category><![CDATA[SPMB]]></category>
		<category><![CDATA[university exams]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://infinite.inficio.info/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membandingkan tingkat kesukaran soal matematika di dua ujian masuk perguruan tinggi di negara yang berbeda, SPMB/SNMPTN milik Indonesia, dan SAT milik Amerika Serikat, saya mencapai suatu konklusi: Dunia ini tidak adil! Ya, ini hanya sekedar rambling stress seorang remaja kelas 3 SMA yang akan menghadang SNMPTN pada tahun 2009. Dan begini ceritanya&#8230; Bingung nih&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah membandingkan tingkat kesukaran soal matematika di dua ujian masuk perguruan tinggi di negara yang berbeda, SPMB/SNMPTN milik Indonesia, dan SAT milik Amerika Serikat, saya mencapai suatu konklusi:</p>
<p>Dunia ini tidak adil!</p>
<p>Ya, ini hanya sekedar <em>rambling</em> stress seorang remaja kelas 3 SMA yang akan menghadang SNMPTN pada tahun 2009. Dan begini ceritanya&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://infinite.inficio.info/wp-content/uploads/dailylife001-cut.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-206" title="dailylife001-cut" src="http://infinite.inficio.info/wp-content/uploads/dailylife001-cut.jpg" alt="dailylife001 cut SAT is a Snap"  /></a> <em></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bingung nih&#8230;</em></p>
<p><span id="more-201"></span></p>
<p>Sebelumnya saya berbincang-bincang dengan <a href="http://meusworld.wordpress.com/">Miyu</a> tentang TOEFL yang kemudian bersambung ke berbagai macam tes lain seperti IELTS, IGCSE, hingga akhirnya nyambung ke SAT.</p>
<p>Saat membicarakan tes bersangkutan, kakak saya yang berlalu-lalang di ruang komputer pun berkomentar tentang seberapa mudahnya soal matematika di ujian SAT. Skeptis mengenai ini, kakak saya bersikeras meyakinkan saya dan mengusulkan pada saya untuk melihat contoh soalnya di internet.  Itupun saya lakukan.</p>
<p>Pertama, saya melihat daftar kategori <em>self-assessment module</em> yang ada untuk soal matematikanya demi melihat materinya apa saja. Hasilnya, sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Basic Algebra: Aljabar Dasar</li>
<li>Advanced Algebra: Aljabar Tingkat Lanjut</li>
<li>Averages and Rounding: Rata-rata dan Membulatkan</li>
<li>Arithmetic: Aritmatika</li>
<li>Estimation and Sequences: Perkiraan dan Deret/Baris</li>
<li>Exponents: Eksponen/Pangkat</li>
<li>Fractions and Square Roots: Pecahan dan Akar</li>
<li>Geometry: Geometri</li>
</ul>
<p>Nggak salah nih? Nggak ada matriks? Logaritma? Integral? Bahkan persamaan garis singgung lingkaran, atau materi lain yang saya biasa hadapi di ulangan harian sepanjang masa SMA?? Yakin ini bukan ujian masuk SMP? (Masih jaman ya anak SMA beranjak kuliah diberi soal pembulatan: <em>Round 907.457 to the nearest tens place!</em> Ini sih nggak mikir juga bisa, selama bisa bahasa Inggris)</p>
<p>Dan saat saya membuka kategori (yang katanya) Advanced Algebra saya rasa yang saya lihat ini bukan soal ujian masuk universitas, tetapi soal latihan Matematika milik adik saya yang masih di bangku 5 SD. Yang bisa dikerjakan di bawah setengah menit hanya dengan bantuan kertas kotretan dan alat tulis. Atau bahkan, tanpanya.  Salah satu contoh soal Advanced Algebra:</p>
<blockquote><p>A study reported that in a random sampling of 100 women over the age of 35 showed that 8 of the women were married 2 or more times. Based on the study results, how many women in a group of 5,000 women over the age of 35 would likely be married 2 or more times?<br />
<em>Sebuah penelitian membuktikan bahwa dari 100 wanita yang berumur di atas 35, 8 dari wanita bersangkutan telah menikah 2 kali atau lebih. Berdasarkan hasil penelitian, kemungkinan berapa banyak wanita dari sebuah kelompok berjumlah 5000 wanita berumur di atas 35 telah menikah 2 kali atau lebih?</em><br />
A. 55<br />
B. 150<br />
C. 200<br />
D. 400<br />
E. 600</p></blockquote>
<p>Mudah? <em>Indeed so.</em> Dengan sekilas melihat, kita bisa langsung menemukan jawabannya (yang nggak bisa, acungkan tangan!). Kalau seperti ini jangan-jangan orang seperti saya saja bisa memasuki universitas yang berprestisi.  Coba lihat soal lain, di bidang Exponent:</p>
<blockquote><p>Multiply 10 to the power of 4 by 10 to the power of 2<br />
<em>Kalikan 10 pangkat 4 dengan 10 pangkat 2</em><br />
A. 10 to the power of 8<br />
B. 10 to the power of 2<br />
C. 10 to the power of 6<br />
D. 10 to the power of -2<br />
E. 10 to the power of 3</p></blockquote>
<p>*slaphead* *slaphead* *slaphead*</p>
<p>Silahkan bandingkan dengan soal SPMB kita yang tercinta&#8230;</p>
<p><em>Now if you&#8217;ll excuse me, I think I&#8217;ll consider looking up American universities for the sake of my future</em><em>&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://infinite.inficio.info/2008/12/22/sat-is-a-snap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
