24.04.09Berbincang dengan Guru
Reportase: Ujian Nasional angkatan 2008/2009
Sebagai salah satu murid kelas 12 SMA Negeri ** Bandung, tentu saya mengikuti satu-satunya jalan keluar dari SMA itu. Gerbang exit itu adalah Ujian Nasional. Ujian yang dianggap terlalu serius oleh orang yang setiap hari mengomel tentang batasan nilai dan mengutarakan berbagai macam alasan mengapa lazim bagi mereka untuk menyontek. Ya, karena ini lah, itu lah, seakan-akan seangkatan tidak menghadapi hal yang sama. Sekarang, kembali ke hari Rabu.
Ruangan 12; ruangan saya. Yang diujiankan hari itu adalah Matematika, bukan pelajaran yang dianggap enteng. Tetapi seperti dua hari sebelumnya, ada penyelamat yang datang dalam bentuk kunci jawaban. Konon, kunci jawaban ini berasal dari “orang dalam” dinas. Mayoritas orang di setiap kelas di angkatan saya mendapatkan kunci jawaban ini, tetapi saya bahkan tidak diberitahu apa-apa soal ini. Mungkin yang lain juga sudah tahu kalau saya ogah ditawari kunci jawaban.
Jam delapan, bel berbunyi, menandakan bahwa kami boleh membuka buklet soal. Yang lain sudah siap menyelipkan HP, atau kertas kecil berisi kunci jawaban pada tempatnya. Saya mengerjakan langsung pada soal, karena kebiasaan saya mengunakan kertas kotretan untuk menggambar. Untuk beberapa, saya bisa langsung mengerjakan, tetapi beberapa lain-seperti menghitung luas segiduabelas atau mengukur jarak pada ruang 3D-langsung saya lewati tanpa pikir lanjut.
Karena melupakan banyak rumus praktis (‘carcep’ – cara cepat
) dan memang tidak berniat untuk mengingat, saya banyak mengerjakan soal dengan penalaran rumus dasar seadanya. Alhasil, ketika bel berbunyi, saya yang paling buntut selesai, tepat ketika bel berbunyi. Menghela napas pasrah, saya mengambil tas saya dari depan kelas, dan mulai beres-beres.
Di ruangan lain, teman saya LI pun telah selesai melalui ujian Matematika. Dia lebih kesusahan dari saya, terutama karena pelajaran itu memang bukan andalannya seperti Kimia. Belakangan ia katakan pada saya, “Aku memang bilang bahwa paling bisa jawab dua puluh [dari empat puluh] sudah cukup, tapi aku nggak benar-benar serius pas mengatakannya.” Namun, hal itupun menjadi kenyataan. Sebelum keluar dari ruangan, teman sekelasnya bertanya,
“LI, kamu bisa nggak tadi?”
Dengan agak pasrah, LI pun menjawab bahwa dirinya mungkin hanya bisa mengerjakan setengah dari total soal yang ada. Mendengar ini, temannya pun entah mencoba menghibur atau apa dengan, “Oh, nggak apa kok LI, aku juga tadi cuma bisa tujuh-belas soal… Coba aja nggak ada kunci jawaban, mati deh aku.”
LI itu memiliki prinsip anti-nyontek yang sama dengan saya. Mengingat bahwa dirinya cukup kewalahan dengan soal Matematika itu, tentu wajar bila ia geram mendengar ujaran santai dari temannya ini. Pada akhirnya, saya dan LI pun mendatangi AJ yang berada dalam kondisi lebih parah: ya… dari cara jalannya, kelihatannya rohnya baru disedot keluar dari jasadnya.
Cheer up, AJ…
Memenuhi panggilan perut, kami bertiga menuju deretan warung makan dekat sekolah, memotong jalan dengan melalui Mesjid S. Disinilah kami bertemu dengan seorang guru yang saya kenal, karena pernah menggantikan guru Matematika saya dan LI yang dulu sempat sakit. Beliau adalah seorang bapak-bapak yang tampaknya berumur sekitar lima-puluhan, dan mengenakan kacamata. Wajahnya terlihat ramah, dan gaya mengajarnya memang lebih ‘lembut’ ketimbang beberapa guru. Kami bertiga menyapa/disapa olehnya, saya lupa urutannya. Pada intinya, beliau mengajak kami berbincang-bincang, dengan basa-basi topik terkini: “Bagaimana tadi ulangannya?”
Bapak guru itu, sebut saja Pak X, menjelaskan bahwa dirinya tidak diizinkan memasuki wilayah sekolah (berhubung beliau guru Mat. juga, mungkin? Pak X adalah seorang guru Matematika IPS, jadi saya kurang kenal juga), sehingga yang bisa dilakukannya hanya keliling di sekitar daerah mesjid saja.
Saya pun langsung bercerocos tentang bagaimana banyak kecurangan terjadi hari ini, tidak lupa memberitahukan bahwa beberapa guru mendukung atau bahkan memberi tips untuk nyontek kala ujian. LI dan AJ tidak kalah, mendeskripsikancara-cara yang digunakan teman-teman seangkatan untuk menyembunyikan “senjata”-nya. “Anak-anak jaman sekarang pintar kalau mikirin cara nyontek, Pak. Coba saja mereka mengalihkan usaha mereka ke belajar, pasti nilainya juga bisa bagus,” saya komentar dengan kesal. Maklumi jugalah kekesalan saya, karena minggu lalu saya harus ikut-ikutan doa bersama seangkatan dimana yang lain menangis-nangis bertobat ala pelatihan ESQ hanya untuk berbuat dosa minggu berikutnya.
Respon pertama dari Pak X itu adalah rasa terkejut. Beliau mengatakan bahwa memang pernah tahun lalu terjadi (seorang murid yang untuk ulangan sehari-hari saja remedial berkali-kali, namun pada UN Matematika mendapatkan nilai 100. Belakangan si murid itu mengakui, namun, hmm… bapaknya tidak melapor? Ujarnya, “Ya, saya pikir, tidak akan terjadi lagi tahun ini…” Benarkah demikian?)
Sayapun makin bersemangat untuk berdakwah tentang topik favorit saya ini. Dengan menggebu-gebu, saya mengucapkan banyak hal, seperti, “Seandainya tidak ada yang nyontek, bila semuanya dapat nilai jelek, kan nanti dinasnya juga lihat kalau soalnya kesusahan toh? Ini juga standar nilai naik gara-gara orang membohongi diri, seakan-akan mereka bisa mendapatkan nilai segitu.”
Bapak X mengiyakan, sekaligus mengutak-atik HP. Lalu beliau bercerita bahwa di kelas IPS yang diajarinya pun, banyak yang meminta bocoran soal darinya. Dan dia pun berkata, “Ya, darimana saya bisa dapat soal? Soal juga baru datang dari dinas pada pagi sebelum ujiannya. Yang mungkin sih, kalau orang dinas kan bisa menyelundupkan satu amplop keluar, tinggal disebarin ke sekolahnya.” Sepertinya beliau membicarakan apa yang benar-benar terjadi tahun lalu.
Saya sudah kegirangan duluan, menganggap ini sebagai tanda bahwa mungkin beliau sealiran sama saya, sama-sama anti-nyontek. Berhubung banyak guru pun sama pedulinya dengan reputasi sekolah sebagaimana murid peduli dengan kelulusan, dan keduanya pun tidak masalah mesti membohongi diri demi itu.
Kami terus mengobrol tentang topik yang satu itu, walau mungkin pembicaraan dimonopoli saya yang menggebu-gebu. Mulai merasa terbuka, saya pun memberitahukan “misi” saya kepada Pak X: untuk mendapatkan nilai lebih tinggi dari mereka yang menggunakan kunci jawaban. Demi membuktikan bahwa kejujuran itu tidak selalu tertindas di dunia dimana mayoritas orang memilih jalan belakang.
Di tengah pembicaraan tentang bagaimana kunci jawaban belum tentu benar, Pak X menanyakan tentang keakuratan kunci jawaban ini. LI mengatakan bahwa ada temannya yang konon telah membandingkan kunci jawaban dengan jawabannya; hasilnya positif, alias cukup akurat untuk menjamin nilai 7-8, bila tidak lebih.
Bapak X mulai main HP lagi; mengirim SMS barangkali? Kemudian, tampak bahwa beliau sepertinya memiliki urusan lain. Saya, LI, dan AJ juga mulai merasa bahwa perbincangan kami sudah cukup lama jalannya. Kami pun mengucapkan permisi kepada beliau untuk mengakhiri pembicaraan. Pak X mengangguk, namun dia pun menambahkan pesan selamat tinggal bagi kami,
“Ya… tapi kalau kalian dapat kunci jawaban, dan ternyata benar, ambil aja.”
Saya yang tidak begitu mendengarkan, hanya mengangguk dan tertawa pelan, menggumamkan, “Hahaha, iya, Pak.” Baru beberapa saat kemudian saya telat menyadari apa yang diucapkan bapak guru itu. Dengan terbata-bata, saya mencoba membantah, “E-Eh, Pak–”
“Ya… anggap saja rezeki. Walau melawan hati nurani sekalipun.”
Saya tetap memasang wajah sopan, namun dalam hati, saya sudah berpikir “WHAT THE HELL?!!” Baru saja kami berempat berbicara panjang lebar tentang hilangnya kejujuran dan usaha keras dalam generasi muda sekarang, dan tiba-tiba, bapak ini sudah menjadi perwujudan guru yang saya sindirin dalam pembicaraan. Jangan-jangan bapak ini cuma mengikuti arus saja mengiyakan prinsip saya.
Baru mengumpulkan pikiran yang tercerai-berai, saya menyahut pada Pak X yang sudah berjalan pergi, “Tetapi, Bapak, saya lebih percaya dengan kemampuan sendiri…”
Entah beliau tidak mendengar, atau sengaja tidak mendengarkan saya. Yang jelas, beliau tidak menoleh balik.


Mari kita diskusikan lagi di telepon…
Bukankah kusudah curhat panjang lebar dengan membosankan tentang ini?
Itu ada kata “lagi” loh.
Iya, iya deh…
*huggie*
Gyaaah Matematika!! Aku paling cuma bisa 18 soal T^T *nangis darah~*
hayah hayah *tergelepar di lantai*
Eh tapi bingung juga loh… kunci jawaban itu dapetnya dari mana sih ya? =w= liat pembicaraan di TV dari diknas kota Bandung (Pa Oji) katanya ketat banget pengawasannya ‘ ‘a *jadi penasaran*
Well ya, emang ada kunci itu menyebalkan… tapi saya nggak mau munafik dengan berkata “Ah saya nggak pake begituan kok” well intinya sih saya emang ada pegangan kunci, tapi bener-bener dipegang… cuma untuk mengecek nilai (makanya tau cuma bisa 18 biji juga), sisanya mah syalalalala~
Ahaha tapi kocak juga UN begini, tiap pagi ada metoda mencontek baru xD UN mengolah kreatifitas! *salut* buat anak-anak kelas yang bikin berbagai macam metoda menaruh kunci… beneran saya excited soal ini >.< … ada yang di rok, ada yang di sepatu, jam tangan, pensil, penghapus, meja dll (kereeen~)
Intinya mah LULUS!!
Aku nggak tahu bisa berapa… pokoknya pas aku belum selesai waktu sudah mepet, dan terpaksa yang belum diisi dihitamkan dengan asal tebak, hwakaa…
Iya, jadi bingung. Orang tuh jadi benar-benar kreatif dan pintar kalau masalah menyelundupkan kunci jawaban, padahal kalau usaha itu dialihkannya ke belajar masa sih nilai 6 saja nggak dapat. Apa orang Indonesia memang bakatnya ini ya…
Aku juga nggak tahu tuh di sekolah dapatnya dari mana, yang jelas mayoritas (lebih dari 90% lah). Katanya sih dari orang dalam (Dinas), cuma saya nggak ngurusin dan memang nggak ada yang ngajak saya ikutan. Yang bikin gereget itu karena hal ini sudah menjadi sedemikian ‘casual’-nya sampai guru pun mendukung… plz deh.
Jadi ingat guru pengawas UAS Bahasa Jepang si Serei yang malah mendukung bagi-bagi jawaban dan semacamnya… dan Serei sebagai anggota Nihon-bu pun tersiksa
Nyaha… tapi Biologi lebih menyakitkan daripada Matematika
Ah… sudahlah soal UN … nggak mau tau yang penting LULUS!
Orang Indo bakat spionase semua kali *dihantam*
Yang jelas beredar kunci bikin orang MALAS BELAJAR!! <— aku banget tuh~
Temenku katanya beli soal ‘ ‘a cuma beli soal juga sopo yang ngisi? *rajin banget jam 5 pagi jarkoman udah nyampe* … jangankan didukung guru deh, orang tuaku aja ngedukung <— dimarahin karena nggak make kunci, ah dilema!
UAS Bahasa Jepang aku juga nyebar jawaban tuh, mungkin karna dikira anggota NiJI aku dianggap bisa padahal *ngakak* nilai 7 aja mungkin nggak nyampe <— menyesatkan orang2~ suruh siapa percaya =w=
Iya, Biologi susah… T_T *apalagi karena banyak bukunya yang hilang*
Ah, kalau Papaku justru rasanya terlalu santai tentang nilai untuk bahkan memikirkan kunci jawaban… Adikku kebanyakan belajar saja dibilanginnya, “N, kamu nggak usah sering-sering belajar! Itu berarti kamu takut!” Hwakakaaa… Prinsipnya sih hadapi semua dengan jujur dan berani~ =w=)/ *punya orang tua yang terlalu percaya pada anaknya*
Ah, aku nggak pakai kunci jawaban, tetap malas belajar…
*ditampol*
Haiyahh, ya, itu sih salah mereka yang memercayakan padamu… Ah, tapi UAS kan palingan nilainya juga dikatrol jadi sembilan koma…