lovetriangle 300x238 Segitiga Cinta

Bukan, bukan cinta segitiga, atau topografi jaringan hubungan antar manusia lainnya. Yang saya maksud dengan Segitiga Cinta adalah teori triangular cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg. Dan ini tidak hanya meliput cinta antar kekasih, tetapi antar seseorang dengan semua lainnya dalam social circle dirinya.  

Berdasarkan teori ini, cinta yang sempurna selayaknya terdiri dari tiga komponen utama: intimasi, komitmen dan *ehem* “hasrat atau nafsu nih?“. Intimacy, Commitment, Passion. Dengan penjelasannya sebagai berikut.

  • Intimasi (Intimacy): Apa itu intimasi? Intimasi dapat didefinisikan rasa kedekatan dan memiliki suatu hubungan istimewa, atau benar-benar “nyambung” dengan seseorang. Yang utama, merasa dekat dan nyaman dengan orang tersebut, sehingga bisa terbuka di hadapannya.
  • Komitmen (Commitment): Komitmen adalah ikatan; resmi maupun tidak, dari kehendak orangnya, ataupun tidak. Dua orang yang ber-”komitmen” dengan satu sama lain telah memutuskan untuk tetap bersama secara jangka panjang, dan juga berbagi rencana dan keberhasilan masing-masing dengan yang lain.
  • Hasrat (Passion): Err… suatu perasaan yang (sebagian besarnya) mengarah ke romance, ketertarikan secara fisik dan juga berbagai keinginan seksual. Hal yang membuat suatu hubungan menggairahkan/menegangkan (secara positif). Atau dalam artian luas, apa yang membuat seseorang ingin meneruskan hubungan.

Dalam tipikal manusia, ketiga komponen itu tentu kadarnya tidak akan semua sama seimbang, atau identik dengan milik orang lain; dan senantiasa berubah-ubah. Kadar tiap komponen yang ada dapat menentukan “kadar” cinta yang kita miliki, sementara komponen mana yang kadarnya lebih besar ketimbang yang lain dapat menentukan “jenis” cinta yang kita miliki.

Cinta yang hanya terdiri dari satu komponen tidak akan dapat bertahan selama cinta yang terdiri dari dua, atau semua komponen yang ada. Dan apa saja jenis cinta yang ada? Berdasarkan komponen apa saja yang ada dalam hubungan bersangkutan, ada tujuh jenis cinta (tidak menghitung “bukan cinta”), yang akan disajikan dalam bentuk tabel terlebih dahulu untuk mempermudah:

lovetriangletable Segitiga Cinta

Dengan uraiannya sebagai berikut:

  • Bukan cinta: Nonlove, sudah jelas. Tidak ada hubungan atau bahkan rasa dekat antara kedua orang ini. Alias, tidak ada cinta.
  • Persahabatan/Suka: Friendship/Liking, yang bukan asal sahabat ataupun asal suka. Dalam hubungan ini, intimasi dan kedekatan telah menimbulkan rasa suka bersama dengan satu sama lain, hingga taraf menjadi sahabat sejati dimana segala keresahan, kebahagiaan, dan perasaan lainnya bisa dituangkan masing orang kepada yang lainnya dengan bebas. Bila dari Persahabatan tumbuh hasrat atau diadakan komitmen, maka persahabatan bisa berubah ke bentuk cinta lainnya. Bila salah satu/kedua unsur lain itu belum ada, maka belum bisa ada hubungan romantis antara dua orang ini.
  • Cinta hampa: Empty love. Beberapa menganggap cinta hampa sebagai bentuk akhir dari cinta lain yang telah kehilangan salah satu unsur penyokongnya (namun belum dapat mengakhiri hubungan karena berbagai alasan: sebagai contoh, karena orang itu bergantung pada orang satunya secara finansial), dan komitmenlah yang tersisa sebagai perekat.

    Namun di bukunya, Sternberg sendiri juga menganggap bahwa cinta yang hampa/kosong (empty) juga dapat diartikan sebagai cinta yang masih bisa di-’isi’, hingga berubah ke cinta tingkat lain. Oleh karena itu, cinta ini lebih relevan dengan pasangan yang ditempatkan pada suatu komitmen secara paksa (lewat perjodohan, dan sebagainya) pada awalnya, sebelum cinta bentuk lain tumbuh. Cinta hampa juga menandakan awal, bukan hanya akhir.

  • Infatuasi: Infatuated love, cinta dimana hanya unsur hasrat saja yang ada. Tidak ada intimasi, sehingga perasaan yang ada hanya untuk menjalin cinta, tanpa mencari emotional support. Tipikalnya cinta ini adalah ‘cinta pada pandangan pertama’. Biasanya disertai dengan perasaan berdebar-debar dan respon secara fisik lainnya terhadap yang ditaksiri (Ehem!!), dan lebih mudah bagi yang lain untuk melihatnya daripada orang itu sendiri.

    Seiring waktu, pasangan dengan cinta semacam ini bisa menjadi asmara dengan munculnya intimasi. Tanpa sokongan dua unsur lain, hasrat yang sebelumnya ada bisa menghilang dengan mudah. Sementara bila tidak ada balasan dari pihak lain, cinta ini bisa menjadi cinta, atau obsesi yang bertepuk sebelah tangan… tanpa benar-benar mengenali orang yang disukai ini.

  • Asmara: Romantic love. Cinta tipe ini sudah mulai memiliki dua komponen; intimasi, dan hasrat. Dua individu yang telah menjalin asmara terikat baik secara emosional maupun fisik, karena keduanya sudah merasa dekat dengan yang lainnya sebagai sahabat baik namun keduanya juga tertarik untuk mengekspresikan kedekatan/cintanya dengan tindakan fisik, dan secara fisik juga terangsang.

    Yang kurang dari hubungan tipe ini adalah komitmen sebagai perekat dalam jangka panjang, karena keduanya mungkin tidak berkeinginan untuk menetapkan hubungan mereka sebagai sesuatu yang akan diteruskan untuk kemudian hari. Cinta tipe ini sepertinya dapat diasosiasikan dengan fling.

  • Pendampingan: Companionate love. Kedua orang ini memiliki komitmen terhadap satu sama lain, dan mereka pun merasa dekat dan dapat mempercayai satu sama lain, namun satu-satunya hal yang kurang adalah ‘hasrat’. Cinta jenis ini lebih kuat dari sekedar persahabatan, karena ada komitmen yang mempertahankannya secara jangka panjang. Banyak pasangan yang sudah sangat lama bersama pada akhirnya kehilangan passion, namun keduanya masih erat dengan satu sama lain secara emosional.

    Cinta semacam inilah yang juga yang idealnya ada antara orang tua-anak atau keluarga (yang intimat secara emosional, dan terikat hubungan darah/persaudaraan). Cinta jenis ini juga bisa ada dalam persahabatan yang benar-benar kukuh, dimana ada ‘komitmen’ untuk terus bersama.

  • Cinta gegabah: Fatuous love. Sejujurnya, saya bingung menerjemahkan ini. Karena definisi fatuous sendiri adalah: bodoh, bebal, dan kawan-kawannya. Namun saya rasa dalam konteks ini, gegabah lebih tepat daripada ‘cinta bodoh’. Ini tipikal cinta yang ada di Hollywood dengan nama whirlwind romance, dimana rasa suka muncul secara tiba-tiba, PDKTnya pun berlalu dengan cepat, dan tiba-tiba wham! Kedua orang itu sudah berkomitmen alias menikah.

    Biasanya cinta ini perginya sama cepat dengan datangnya, karena tidak ada basis dalam tahapan ‘jatuh cinta’ dengan orang satunya (berhubung belum ada hubungan intimat antara keduanya sebelumnya). Komitmennya datang dengan terburu-buru sebagai akibat hasrat yang kuat untuk menjalin cinta, tanpa intimasi yang butuh waktu untuk dikembangkan. Namun bisa jadi dalam hubungan ini intimasi terbentuk belakangan, dan hanya dengan itu cinta tipe ini akan bertahan.

  • Cinta sempurna: Consummate love, yang tidak hanya lengkap dengan ketiga komponen cinta, tetapi juga melengkapi kedua orang yang memilikinya. Inilah cinta ’sempurna’ yang didambakan orang, dimana pasangan yang bersangkutan berada dalam suatu komitmen yang akan bertahan, merasa dekat + intimat dengan satu sama lain, dan juga tetap memiliki ketertarikan fisik/seksual terhadap satu sama lain! Pasangan dengan tipe cinta ini bisa melalui masalahnya bersama dengan mudah, dan seusainya masih tetap cinta berat dengan satu sama lain.Tetapi cinta tipe ini tidak bertahan selamanya tanpa usaha. Menurut Sternberg, mempertahankan cinta yang sempurna ini jauh lebih sulit daripada mencapainya. Bila passion dalam suatu hubungan telah hilang, cinta ini akan turun pangkat menjadi companionate love. Jelas, butuh usaha untuk mempertahankan cinta tipe ini. (Perlu diingat bahwa bagi pasangan yang sudah sangat lama bersama, hilangnya passion itu wajar, karena memang hasrat tidak akan selamanya ada dalam diri manusia)

Dan faktor utama yang dibutuhkan dalam upaya mempertahankan cinta yang sempurna (menurut Sternberg) adalah: ekspresi! “”Without expression, even the greatest of loves can die,” ujarnya. Agar cinta bertahan, kita harus selalu ingat untuk mengekspresikannya pada orang yang kita cintai. Bila tidak, bisa jadi orang yang bersangkutan merasa tidak dicintai, dan kemudian enggan untuk mengekspresikan cintanya pada kita. Dan bila rasa kesal karena merasa tidak dicintai terus dipendam, saya rasa perasaan tidak enak itu akan mengendap, dan akhirnya cinta pun hilang dari diri kita.

Ya, mungkin dengan ini dapat menentukan tipe cinta apa yang sedang dialami. Ngomong-ngomong, tidak selalu harus mengincar untuk mengubah tipe cinta yang ada menjadi consummate love. Kadang-kadang, memang ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Kalau menurut observasi saya bila ingin menjalin romantic relationship, sepertinya “Passion” adalah faktor yang penting (karena tanpa ini, hubungan menjadi platonik, sepertinya).

Ahh… cinta itu hal membingungkan…

*nggak jelas maksudnya apa*