22.12.08SAT is a Snap
Setelah membandingkan tingkat kesukaran soal matematika di dua ujian masuk perguruan tinggi di negara yang berbeda, SPMB/SNMPTN milik Indonesia, dan SAT milik Amerika Serikat, saya mencapai suatu konklusi:
Dunia ini tidak adil!
Ya, ini hanya sekedar rambling stress seorang remaja kelas 3 SMA yang akan menghadang SNMPTN pada tahun 2009. Dan begini ceritanya…
Bingung nih…
Sebelumnya saya berbincang-bincang dengan Miyu tentang TOEFL yang kemudian bersambung ke berbagai macam tes lain seperti IELTS, IGCSE, hingga akhirnya nyambung ke SAT.
Saat membicarakan tes bersangkutan, kakak saya yang berlalu-lalang di ruang komputer pun berkomentar tentang seberapa mudahnya soal matematika di ujian SAT. Skeptis mengenai ini, kakak saya bersikeras meyakinkan saya dan mengusulkan pada saya untuk melihat contoh soalnya di internet. Itupun saya lakukan.
Pertama, saya melihat daftar kategori self-assessment module yang ada untuk soal matematikanya demi melihat materinya apa saja. Hasilnya, sebagai berikut:
- Basic Algebra: Aljabar Dasar
- Advanced Algebra: Aljabar Tingkat Lanjut
- Averages and Rounding: Rata-rata dan Membulatkan
- Arithmetic: Aritmatika
- Estimation and Sequences: Perkiraan dan Deret/Baris
- Exponents: Eksponen/Pangkat
- Fractions and Square Roots: Pecahan dan Akar
- Geometry: Geometri
Nggak salah nih? Nggak ada matriks? Logaritma? Integral? Bahkan persamaan garis singgung lingkaran, atau materi lain yang saya biasa hadapi di ulangan harian sepanjang masa SMA?? Yakin ini bukan ujian masuk SMP? (Masih jaman ya anak SMA beranjak kuliah diberi soal pembulatan: Round 907.457 to the nearest tens place! Ini sih nggak mikir juga bisa, selama bisa bahasa Inggris)
Dan saat saya membuka kategori (yang katanya) Advanced Algebra saya rasa yang saya lihat ini bukan soal ujian masuk universitas, tetapi soal latihan Matematika milik adik saya yang masih di bangku 5 SD. Yang bisa dikerjakan di bawah setengah menit hanya dengan bantuan kertas kotretan dan alat tulis. Atau bahkan, tanpanya. Salah satu contoh soal Advanced Algebra:
A study reported that in a random sampling of 100 women over the age of 35 showed that 8 of the women were married 2 or more times. Based on the study results, how many women in a group of 5,000 women over the age of 35 would likely be married 2 or more times?
Sebuah penelitian membuktikan bahwa dari 100 wanita yang berumur di atas 35, 8 dari wanita bersangkutan telah menikah 2 kali atau lebih. Berdasarkan hasil penelitian, kemungkinan berapa banyak wanita dari sebuah kelompok berjumlah 5000 wanita berumur di atas 35 telah menikah 2 kali atau lebih?
A. 55
B. 150
C. 200
D. 400
E. 600
Mudah? Indeed so. Dengan sekilas melihat, kita bisa langsung menemukan jawabannya (yang nggak bisa, acungkan tangan!). Kalau seperti ini jangan-jangan orang seperti saya saja bisa memasuki universitas yang berprestisi. Coba lihat soal lain, di bidang Exponent:
Multiply 10 to the power of 4 by 10 to the power of 2
Kalikan 10 pangkat 4 dengan 10 pangkat 2
A. 10 to the power of 8
B. 10 to the power of 2
C. 10 to the power of 6
D. 10 to the power of -2
E. 10 to the power of 3
*slaphead* *slaphead* *slaphead*
Silahkan bandingkan dengan soal SPMB kita yang tercinta…
Now if you’ll excuse me, I think I’ll consider looking up American universities for the sake of my future…



Hahahaa… Pakai gambar yang bengong itu.
Bersyukurlah tinggal di Indonesia, pendidikannya menggemblengmu menjadi sangat pintar! Hidup ini keras, dan Indonesia tahu itu!
*sarkastik*
Wew, ini soal Universitas?
Terlihat mudah karena gemblengan 10 tahun
Indonesia kan baiiiiik… Kita belajar menghadang berbagai kesusahan sebagai persiapan di dunia pekerjaan nanti. Seperti kesusahan repot-repot mempelajari mata pelajaran UAN yang belum tentu semua akan berguna nanti, dan pokoknya harus segala bisa…
Justru karena stress orang jadi belajar bekerja sama dan mencoba mengambil ‘jalan pintas’ untuk nilai bagus, huahaha~~
@ Adriano Minami: Iya nih, kok mendadak saya jadi tertarik masuk Harvard ya… *ngawur*
Saya juga sempat memerhatikan ujian masuk Todai beberapa tahun lalu (dapet dari guru saya)… dehors. Bahkan saya pun bisa mengerjakan soal-soalnya. Bandingkan dengan SNMPTN di Indonesia…
Ironis memang. Begitu dikejarnya masalah teoritis di Indonesia, pun begitu mereka yang benar-benar menguasainya tak pernah kelihatan di permukaan… kemanakah orang-orang seperti Hawkings atau bahkan Zizek sekali pun?
Walaupun bukan berarti kuliah di Indo tak bisa jadi apa-apa… :/
Kalau menurut ayah saya: kompetisi di Indonesia itu jauh lebih sengit daripada di negara semacam Amerika Serikat, sehingga tes kompetensi yang dibutuhkan pun harus mengais orang-orang yang berkemampuan lebih tinggi lagi~
Bzzzt… damn large population!
*dibakar*
Hmm… mungkin juga. Tapi saya jadi terpikir… apa Cina juga begitu? Dengan populasi yang notabene cukup lebih besar…
…eh, iya, nggak ada hubungannya sih, tapi Indonesia dan Cina sama-sama terkenal oleh pembajak dan hackernya ya.
Hmm, dampak dari pelajaran formal yang terlalu mengikat? Apa jangan-jangan di Cina juga kayak begini…
Hmm… Dimana ya bisa dapat sampel ujian masuk universitas di Cina
*dipentung*
Sepertinya yang di bagian Asia sini memang pelajarannya cenderung terlalu formal dan mengajar untuk menghapal, daripada untuk berpikir. Hmm, soal kehebatan pembajak dan hacker Indonesia + Cina bisa jadi ada hubungannya dengan pendidikan, tetapi saya pikir sih itu lebih berhubungan dengan hal lain. Seperti, banyak demand, tidak punya uang untuk beli yang asli, jadi orang menjual yang lebih murah bagi mereka dan pembeli?
*nggak jelas*
Atau jangan-jangan hacker memang butuh stress relief? *dilempar*
Ah, kata kakak saya ujian masuk Todai (Tokyo University) juga mudah lho…
*ini memang Indonesia yang sok ribet atau kakak saya saja yang mudah mengerjakan ujian ya*
-blogwalking
-
wooot?? *terpana tak percaya*
…
indonesia sok pinter kalau begitu *ngumpet* persaingan kita lebih ketat tapi hasilnya kok kayaknya AS lebih… *sungkem*
Wah, entahlah. Kayaknya bidang Exact Science itu juga kurang diminati di luar sih, soalnya teman-teman kakak saya dulu di Australia semuanya tertarik masuk jurusan “IPS” semacam HI dan kawan-kawannya, dan sedikit sekali yang mau masuk Engineering/Teknik. Hmm…
Mungkin mereka nggak butuh yang susah-susahnya karena itu
*halah*
dasar kalo tolol ya tolol aja, gak usah ngebanding bandingin orang laen.
Ah, rasanya pernah dapat tes serupa… *ingat-ingat*
ah, ingat!
Memang waktu itu guru matematika memberi soal itu katanya untuk memetakan kelas. Walhasil saya jadi dilihat pintar. Padahal itu gara2 soalnya kayak soal anak SD… =A=
Pertanyaan sakti:
“Kalau soal Indonesia lebih susah tapi kok kayaknya orang Indonesia ga pinter2 ya?”
soal di Indonesia lebih susah tapi mungkin lebih gampang dikerjakan? karena seingat saya (maklum dah tua) bentuk soalnya langsung, jarang sekali soal cerita, dan itu kadang2 ga perlu paham asal-usul dan aplikasinya, cukup apal rumus udah bisa jawab
please CMIIW
Mungkin untuk Indonesia,
SAT lebi susah karena memakai bahasa inggris :hammer:
Jadi sebagai penyeimbang soal Matematika di Indonesia dibuat lebi susah :hammer: