30.09.08Nyai Ontosoroh

Sekitar seminggu yang lalu, seseorang telah meminjamkan buku pertama dari Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia. Jelas, tokoh utamanya adalah Minke, namun ada satu tokoh lain yang sama tak gentarnya dalam menentang hukum pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu.
Jadi, saya memutuskan untuk sedikit menelusuri karakter yang satu ini~
Aku masih terpesona melihat seorang wanita Pribumi bukan saja bicara Belanda, begitu baik, lebih karena tidak mempunyai suatu kompleks terhadap tamu pria. Dimana lagi bisa ditemukan wanita semacam dia? Apa sekolahnya dulu? Dan mengapa hanya seorang nyai, seorang gundik?
Siapakah tokoh ini? Tidak lain dari wanita yang telah bekerja keras mengurus perusahaan hanya dengan bantuan putrinya, dan keduanya akan diambil darinya, sang gundik Nyai Ontosoroh. Minke, sang karakter utama pun terkejut melihat seberapa berpendidikannya nyai yang satu ini, mengingat pada saat itu, ‘nyai’ dipandang rendah dan tidak bermoral.
Saat kebanyakan wanita sepertinya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya, Nyai Ontosoroh tidak hanya melawan kebudayaan Pribumi yang memandang rendah wanita, tetapi juga masalah yang datang karena statusnya sebagai nyai. Tetapi wanita hebat ini dapat menjadi sama terdidik, bila tidak lebih, dari wanita Eropa. Tanpa bersekolah pula.
Pada awalnya dia hanya Sanikem, seorang gadis yang telah dijual ayahnya pada Herman Mellema. Dia menganggap dirinya tak memiliki orang tua- ayahnya telah menjualnya, dan ibu tidak bisa mempertahankannya. Dan walau tidak mau mengingat bagaimana dirinya telah diperlakukan seperti budak belian, dia menerima nasibnya sebagai nyai - bukan sembarang nyai, tetapi, Jadi nyai, jadi budak belian, yang baik, nyai yang sebaik-baiknya.

Ya Ann, aku telah mendendam orangtuaku sendiri. Akan kubuktikan pada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga dari pada mereka, sekalipun hanya sebagai nyai.
Dia sadar akan nasibnya sebagai nyai, dan itulah salah satu pemicunya untuk terus-menerus belajar, dengan bimbingan tuannya, Herman Mellema. Dipelajarinya segala tentang pertanian, perusahaan, pekerjaan kantor, dan baca-tulis dalam berbagai bahasa. Hingga pada akhirnya, keahliannya memimpin perusahaan pun melebihi milik tuannya sendiri. Dia pun menyadari bahwa dia sama sekali tidak bergantung pada tuannya dan justru sebaliknya, tuannya lah yang bergantung padanya. Sanikem pun berangsur-angsur lenyap, digantikan oleh wanita pengendali perusahaan Boerderij Buitenzorg, Nyai Buitenzorg - Nyai Ontosoroh.
Walau menerima statusnya sebagai nyai (justru meminta untuk dipanggil Nyai daripada Mevrouw/Nyonya), dan wanita Pribumi, dia tidak pernah merasa rendahan. Dia tetap memiliki harga diri, merasa sederajat dengan yang lain. Hal lain yang membuat tokoh lain berdecak kagum adalah, dalam kata-kata Magda Peters: Dia berani menyatakan pendapat! Sekalipun belum tentu benar. Dia tak takut pada kekeliruan. Tabah, berani belajar dari kesalahan sendiri. God!
Yang disayangkan adalah sifat pendendamnya. Dia bahkan sebegitu dendamnya terhadap ayah-ibunya hingga menganggap dirinya tidak berorangtua lagi. Dendamnya itu yang menjadi dorongannya untuk terus-menerus belajar, tetapi dendamnya jugalah yang menghalanginya dari merasa bahagia.
“Berbahagia juga Mama sekarang?”
“Yang sekarang ini aku tidak tahu. Yang ada hanya kekuatiran, hanya ada satu keinginan. Tak ada sangkut-paut dengan kebahagiaan yang kau tanyakan. Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak?”
Di sisi lain, dendamnya membuatnya tidak sekedar berdiam diri menghadapi nasibnya. Saat segala yang telah dia coba pertahankan, seperti perusahaan yang telah dia urus selama dua puluh tahun, dan anaknya yang telah dia didik untuk mengambil alih perusahaan kelak hari, Annelies, akan diambil darinya, dia pun melawan. Hal yang patut dicontoh dari sang nyai: keberanian, dan ketabahan. Dan, dignitynya dalam menerima kesalahan/kegagalannya.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
And, when will I become such a woman?
*digaplok*


Saking berpengaruhnya tokoh satu ini dalam kesusasteraan Nasional, bahkan pernah ada panggung teater nasional yang mengangkat namanya sebagai judul teater. Memang Bumi Manusia terpusat pada tokoh Minke, tapi entah kenapa sosok perempuan yang satu ini begitu kuat–ya seperti yang dirasakan Minke, Nyai Ontosoroh mampu ‘menghipnotis’ pembaca.
Pram, yang sangat kagum akan sosok RA Kartini seringkali membuat tokoh perempuan kuat yang berani melawan arus dalam novel-novelnya. Nyai Ontosoroh tak hanya berjuang untuk dirinya, ia juga secara tak langsung berjuang untuk kesetaraan derajat bangsanya di hadapan banga Eropa yang menguasai bumi nusantara kala itu.
[bersambung, buka puasa dulu]
Ya, Nyai Ontosoroh adalah figur yang entah kenapa, keberadaannya terasa sangat powerful. Seakan selalu dia yang in-control. Mungkin karena dignity dan tekad kuatnya itu, rasanya selalu dia yang ‘menang’ pada akhir walaupun dia ‘kalah’… toh dia masih dapat mengangkat kepala dengan bangga (?).
Entahlah… itulah impresi yang kudapatkan darinya.
Eh, setelah diperhatikan kok Annelies di teaternya kelihatan tua banget ya? Nggak kelihatan inosen atau bagaimana seperti anak 16 tahun yang sewajarnya…
*OOT*
nyai ontoroso….. eh salah ontosoroh heheh
andaikan terlahir di jaman sekarang, pasti jadi piawang saham yang keren
halah piawang… maksudnya pialang


Sayang wanita jaman sekarang gak kayak gitu pada, bagus itu.
Mevrouw Goen toh ini? Pantes aja komennya hampir sama