23.09.08Kekompakan

Seenaknya pergi sendiri…
Apa itu kekompakan? Definisi kekompakan menurut teman saya sih…
- Buat apa bervariasi dalam menjawab tugas yang diberikan ketika guru tidak masuk? Satu untuk semua! Tulis saja jawabannya di papan tulis biar semuanya kompak dan seragam
- Kalau dapat bocoran soal, jangan pedulikan teman di kelas lain dulu! Prioritaskan anak sekelas dong, biar semuanya kompak nilainya bagus…
- Ayo semuanya main keroyokan meledeki Tuan M![1]
- Kalau ada yang tidak masuk, agar terlihat bagus tuliskan saja semuanya hadir, biar kompak titik-titik penanda kehadirannya dan tidak ada lubang-lubang ketidakhadiran yang mengganggu. Kecuali bila orang itu adalah Tuan M; lapor! Lapor!
- Kalau menemukan spoiler UAN dan kawan-kawannya, buat apa susah-susah beli sendiri, dan dengan egois menyimpannya buat sendiri juga? Beri kabar dong kepada teman-temanmu, biar bisa kompakan menanggung biaya dan mendapatkannya, walau nggak mau sekalipun.
- Mengutip salah seorang teman sekelas saya, Tuan Z, untuk menjustifikasi berbagi jawaban dalam UAN sebagai bentuk kekompakan yang lain:
“Kalau ada teman kalian yang tiba-tiba kecelakaan di hadapan kalian, kalian akan membantunya, kan? Nah, seandainya ada teman kalian ada yang nggak lulus UAN, masa kalian tega sih membiarkannya mengulang satu tahun lagi?”
Masa bodoh mereka nggak lulus karena kebodohan sendiri, bukan karena faktor luar yang tidak diduga?
- Bila pada tidak mengerjakan PR, segelintir yang sudah berjuang keras sampai tengah malam untuk mengerjakannya jangan malah mengumpulkan! Kekompakan kan tidak memperhatikan jerih payah kalian, jangan mendahului dong, masa mau nggak kompak sendiri?
- Mengutip seorang ex-teman sekelas, Tuan F, tentang berbuat gaduh dan berisik di dalam bis menjelang karya wisata dengan kompak agar lebih ramai lagi:
“Kita semua mau have fun kan???”
- Kalau Tuan M yang berbicara, kompakan menertawakan ya…
- Apa? Ada seseorang yang berusaha menyanggah kekompakan ini[2]?! Bungkam sebelum berbicara lebih!
Seharusnya dalam Bahasa Inggeris saja ya? Ya, saya harap teman sekelas saya tidak ada yang blogger… hehe *dibantai*
[1] Saya pribadi juga tidak suka Tuan M, tetapi itu karena alasan pribadi dia tidak pernah mengembalikan pulpen yang sama pinjam dan tidak pernah kerja dalam kerja kelompok, berhubung saya benci main keroyokan..
[2] Saya


Hanya itu.
Kenapa, Mas?
Justru saya menyalahkan UAN-nya. Mengapa ? Menilik perkataan Joker :
“You know, the only sensible way to live is without rules.”
Sebagaimana aku tahu dan aku pikir (IMHO) sebenarnya UAN di Indonesia adalah pembunuhan. Dimana 3 tahun belajar ditentukan dengan 3 jam ulangan. Ya, bahasan yang klasik, memang…Tetapi masih belum berubah.
Anyway…Karena OOT< aku akan meluruskannya..
—
Menilik dari kacamata sosial (Ya, salahkan saya sebagai anak IPS), “kekompakan” itu tidak murni “salah” juga, sih. Karena sebetulnya pembelajaran asli di masa SMU itu bukanlah ilmu eksak yang seringkali dipelajari di jam – jam pelajaran. Tetapi bagaimana kalian “bekerja” dalam komunitas / strata sosial.
Ya…itu yang saya tangkap.
Ah, iya..
busyet… anak2 sma jama skarang… ck… ck… ck…
Ya deh ya ya. Ini pakai komen panjang.
Anarchism, desho desho?
Kalau nggak anarki, apa lagi dong.
UAN itu diperlukan untuk seleksi dunia. Nah, coba sebutkan seleksi dunia yang nggak membunuh kayak UAN. Karena ini dunia, bukan sorga.
Masalahnya adalah kekompakan itu disalahgunakan, dijadikan pembenaran untuk melanggar peraturan dan norma. Jangan dengan alasan untuk belajar berkomunitas atau kompak jadi bisa dengan bilang nggak salah. “Bekerja” dalam komunitas itu bisa dengan banyak cara, ada yang melanggar peraturan (seperti beberapa yang dituliskan di dalam entry), tapi ada juga yang nggak melanggar.
“Kekompakan” (dalam tanda kutip) yang merujuk pada pelanggaran peraturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat jelas salah. Kenapa salah? Karena ada kekompakan yang benar. Apa saja itu? Jelas yang tidak melanggar peraturan dan norma, misalnya kekompakan dalam membersihkan kelas bersama, kerja sama yang efektif dalam diskusi kelompok, dll. Itulah yang membangun. Karena “kekompakan” macam seperti yang disebutkan di atas alih-alih membuat siswa menjadi belajar “bekerja” dalam komunitas sosial, malah menanamkan budaya KKN dan pembenaran tindakan sedari muda.
Pembenaran untuk sesuatu yang melanggar, nggak bisa dikatakan benar. Nah bagaimana negeri tercinta ini bisa maju di masa depannya nanti jika generasi mudanya hobi melakukan pembenaran atas tindakannya.
Kenapa kebenaran harus ada di dasar jurang? Dan kenapa untuk mencapai kebenaran harus berkorban lompat?

Analogi yang serasa malas.
Sebenarnya UAN itu ‘kan mekanisme seleksi yang memang sudah masuk akal. Siswanya belajar, lalu diujikan. Akal sehat, toh? Memang saat ini katanya konsekuensinya adalah “mempertaruhkan waktu tiga tahun dengan 3 jam ujian”. Tapi mesti diperhatikan;
1. Lantas mau bagaimana lagi? Dari hasil kumulatif ulangan-ulangan umum per semester? Kalaupun itu diimplementasikan, nanti keluhan yang ada bunyinya akan jadi; “mempertaruhkan waktu enam bulan dengan 3 jam ujian”. Lalu bagaimana lagi? Hasil kumulatif ulangan harian per bab pelajaran? Kalau itu dilaksanakan, bunyi keluhannya akan jadi; “mempertaruhkan waktu dua minggu dengan 1 jam ujian”.
2. Siapa bilang yang dipertaruhkan tiga tahun? Kalau gagal ‘kan mengulang setahun, tidak tiga tahun, toh?
3. Semua orang ‘kan dapat perlakuan yang sama. Jadi ujian sebagai seleksi tenaga kerja tetap adillah. Kecuali kalau diundi, misalnya beberapa orang tidak perlu ikut UAN. Barulah boleh mencak-mencak.
* * *
Itu menurut saya soal sistemnya. Perkara apa boleh curang sedikit dalam menjalankannya, itu saya angkat tangan sajalah. Ndak tau.
Koreksi, yang “mempertaruhkan waktu enam tahun” adalah “mempertaruhkan waktu enam bulan”.
Dibenerin ya Jeng.
@ Sabotender: Sudah saya edit, Mas…
Untuk sementara ini, itu saja deh *no comment*
*dilempar*
@ Mr. G dan Suhu G :
Ya, apa lagi dong ?
First Certification of English ? Ah, sebenarnya itu membunuh sekali. 800.000 Rupiah bisa hilang kalau gagal.
Aku nggak
terlaluterlalu inginnggak mauperlubisa menjawab yang itu….Sebenarnya malah nggak perlu. Itu ‘kan masih masuk dalam kadar O.O.T…Tapi..Ah, sebelumnya, seperti yang tuan katakan di atas, ini dunia, bukan sorga. Meminjam istilah orang, di dunia itu :
“There’s no good or bad. There’s only decision and consequences.”
*Berlagak bijaksana*
Jadi..apakah yang benar adalah murni benar dan yang salah adalah murni salah, saya sendiri tidak akan pernah tahu. Tetapi perilaku yang menunjukkan “kekompakan” diatas itu tidak akan pernah menjadi sesuatu yang murni “disalahgunakan” atau menjadi “pembenaran atas kesalahan”. Saya, dengan pernyataan sebelumnya, bahkan tidak berusaha mengatakan bahwa “Anda salah!”, tetapi inti dari opini tersebut tentu bagis saya sangat jelas; Jangan melihat dengan kacamata kuda, tuan.
(Contoh yang lucu dari ‘kebenaran’ menyontek sendiri, dari apa yang saya tangkap melalui orang – orang di kelas saya, adalah menjadikan mereka jauh lebih peka terhadap keadaan dan menjadi lebih cerdas dalam menyusun strategi. Ini bukan sebuah denial. Hanya gumaman…)
Dan generasi muda ini tidak sedang membenarkan tindakannya.
Hoo..itu saya dapat dari (Saya delete, takut dikira SPAMMER). Well, daripada saya dikira jadi provokator masalah orang, saya potong… :
Dan apakah itu menjadi sebuah analogi yang malas sekarang ?
Bukan dengan kacamata kuda, ini kacamata peraturan pendidikan. Kan sudah ditulis berulang-ulang tentang peraturan dan norma. Bagaimana sih.
Dalam membahas sebuah topik, harus ada penyempitan dan penggolongan masalah. Nah kalau dengan argumen di atas, ini malah memperlebar ruang lingkup namanya. Itu adalah argumen klise yang menyatakan bahwa nggak ada yang murni benar dan murni salah, karena nggak ada batasan ruang lingkup dan pemusatan masalah. Buat dulu ruang lingkupnya, kalau tidak, semuanya akan sama jawabannya. Begitu cara untuk menarik kesimpulan.
Argumen itu, yang menyatakan nggak ada murni benar dan murni salah itu adalah argumen generalisasi klasik yang nggak pernah bisa menyelesaikan masalah dan penarikan kesimpulannya selalu mengambang. Jelas bisa dipakai di semua masalah, tapi nggak akan menyelesaikan masalah karena kesimpulan akhir akan selalu seperti ini, beretorika terus-menerus. Ini seperti berputar-putar, dan termasuk pembenaran.
Saran kecil, jika banyak jalan positif untuk mengembangkan kepekaan dan penyusunan strategi, mengapa manusia mencari yang berbau negatif? Karena instan. Padahal yan nggak instan efeknya lebih baik lagi…
Tahu artinya malas? Karena mengambang. Tetap malas, karena itu fallacy of metaphorization, kesalahan pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Karena untuk mendapatkan kebenaran dari kasus si pemilik blog, ia tidak bagai “melompat ke jurang”, karena kebenarannya tidak berada dalam jurang sama sekali. Jadi ada kesalahan penarikan analogi pada kasus ini. Ya, kasus ini.
*gelar kacang*
*rebus tikar*
Tikar rebus, enak…
*junk di entri blog sendiri*
@ Yudha:
Hihihi, ya begitulah…
*malas mengedit komen sebelumnya*
*duduk di atas teh anget*
*nyeruput rumput*
Apa-apaan ini…
Ohshi-, solidaritas semu. Saya sudah rada bosan dengan ini pas di SMA.
Kok komennya panjang-panjang ya.
*baca*
Wew, yang mau saya katakan kayaknya sudah ada di komentarnya mas Gun semua. Membaca ini, saya jadi ingat dua kasus/dua hal:
1. Seorang teman dari saya pernah berujar, di Naruto saja pas ujian justru dianjurkan menyontek, bukan menjawab soal. Entah maksudnya bercanda apa nggak, tapi kalau menurut saya sih, ini perbandingan yang ngawur. Rasanya yang diuji di Naruto itu proses pengumpulan data kayak intelijen deh.
2. Saya pernah dengar di radio soal seseorang yang sakit parah (lupa sakit apa) tapi tetap memaksakan diri ikut Ujian Nasional. Alhasil teman-teman satu kelasnya rame-rame ngebantuin dia ngerjain soal UN dan pengawasnya pun diam saja.
Lha, kalo saya malah kepikirannya kayak gitu tetap aja nggak diperbolehkan. Ibaratnya seperti menyogok dewa kematian.
Selain itu, saya juga kepikiran yang lain lagi. Kalau pengawasnya UN bukan guru sekolah kita, kenapa peserta UN tempat sekolahnya juga nggak diacak saja ya? Jadi macamnya SNMPTN. Sehingga nggak ada yang saling kenal dan cenderung individual.
Meskipun pasti lebih repot sih…
[...] Gak mau nyontek? Jangan munafik deh! Entar elu kalo ngadepin soal yang susahnya kayak gini paling ujung-ujungnya nyontek juga. Mana bisa lu ngerjain sendiri. [...]
Saya saat ini lebih prefer dapet 2 daripada mesti melakukan kekompakan sejenis itu
Saya g setuju ama orang curang, karena sesungguhnya kayak gitu2 g bakal berhasil di dunia kerja
Makanya saya bilang, UN Sama Sekali Tidak Menentukan!!!!!!!!!!!!!!!!
@ Xaliber von Reginhild:
LOL, ini kan cuma bisanya di Sims, Mas… *dibantai karena malah OOT lagi*
@ 1:
Haha, tentu saja itu bisa diaplikasikan ke dunia nyata, karena kita semua ninja muda yang tentu harus bisa mengumpulkan data ala espionage
@ 2:
Lha, semua orang yang ikut UAN kan sudah tahu terms and conditionsnya, harusnya memang dia kerjakan sendiri saja. Agak jahat terdengarnya, tetapi toh mau bagaimana lagi? Bila dia sakit, masa dibantu. Kalau sakit ya salah sendiri tidak menjaga diri. *kejam*
Wah wah wah…
kekompakan yang buruk itu, saya merasakannya sendiri di kelas, huhuhuhu
Ah, ini bisa akal-akalan teman sekelas juga buat bisa kerja sama dalam Ujian Nasional… Memanfaatkan ada yang sakit, bantuin rame-rame, pengawas diam aja, tapi sekalian kerja sama… *berpikiran negatif*
Nah, intinya bagi gue itu cuma ya TAU DIRI aja. Tau diri di sini adalah tau menempatkan diri dan bertindak berdasarkan ruang lingkup, kondisi, keadaan, dan siuasi tertentu. Misalnya dalam ujian, ya ada peraturan dilarang nyontek atau kerjasama, yo wes tau diri lah. Berarti kerja sama nggak diperbolehkan, dan itu bukan kekompakan dalam ruang lingkup ujian. Kalau melanggar, artinya nggak tau diri…
Setiap keadaan jangan digeneralisasi dan dihadapi dengan pendekatan yang sama, karena semuanya jelas berbeda.
*pakai istilah aneh*
Jadi ingat masa-masa SMA… Pada akhirnya saya cuma jadi sampah
masyarakatlingkungan gara-gara hal seperti ini.@Infinite Inficio:
Lha, kan ibarat.
Maksud saya kalau memang nasibnya mati ya apa mau dikata, jangan menyogok dewa kematian.
@Bethla Garrison:
Definitely agree.
Biarpun banyak hal yang relatif, tapi norma di tempat spesifik jelas tidak relatif, kan.
[...] dibutuhkan jelas berbanding terbalik dengan kapasitas waktu yang saya dapat; Delapan bulan lagi UAN. Kredibilitas saya sebagai siswa dipertaruhkan di sana. Sehingga saya harus bergerak cepat, bermain [...]
Hm… maksudnya kekompakan dalam menjawab soal ujian dan membagikan hasil pekerjaan kepada teman sekelas supaya terkesan kompak ya?
Hal seperti ini malah diterapkan oleh para guru pada anak didiknya semenjak SD kan? Khususnya di SD negeri ‘kasus saya’ para anak didik diharuskan membantu temannya yang kurang bisa saat mengerjakkan Ujian Akhir.
Tapi hal seperti itu nampaknya tidak begitu berlaku di sekolah swasta (seperti sekolah saya) walau praktik mencontek atau bagi-bagi jawaban PR masih berlangsung, bagusnya hal ini tidak mengatasnamakan kekompakan, hanya kebutuhan saja. Siapa butuh dia bekerja, siapa tidak ya… santai saja. Yang memberikan jawaban juga ikhlas-tak ikhlas. Mau lihat silakan… tidak lebih bagus.
Oh ya? Kalau SMP negeri saya nggak tahu ya (tapi saya ingat, memang ada beberapa guru yang memang menghimbaukan ‘kerja sama’ -_-), tetapi semasa saya masih SD (halah, seakan sudah tua saja) justru saya ingat orang-orang yang dituduh mencontek malah dijauhin
Ya, yang mengatasnamakan kekompakan itu juga, jelas, pihak yang ‘membutuhkan’ itu… Kalau menurut saya sih, bisa jadi untuk menekan orang-orang yang agak reluctant untuk memberi jawaban: ‘Kalau kamu nggak ngasih jawaban, berarti kamu bukan bagian dari kita.’
Ah, entahlah…
[...] Hood untuk disumbangkan ke rakyat miskin itu belum tentu salah ke aparat hukum? Atau berkata bahwa bekerjasama dan menyontek berjamaah ketika ujian untuk membantu teman yang tidak mampu itu sah-sah saja ke guru Anda? Bisa-bisa [...]