04.09.08Death Sentence
Question! What is your opinion on executing death sentences in Indonesia? Affirmative or negative, to which extent, and why? Something like: “I agree if blah blah, because this and that” or “I disagree because blah blah”, because I’m sure anyone who ‘agrees’ wouldn’t agree fully seperti contoh seseorang ‘maling ayam dibakar sampai mati ![]()
Tanya! Apa pendapat anda mengenai pelaksanaan hukuman mati di Indonesia? Pro atau kontra, hingga taraf apa, dan mengapa? *mengumpulkan bahan diskusi*


Menurut aku sih oke2 aja, karena tujuan utamanya adalah menjadi peringatan bagi calon-calon pelaku tindak kriminal lainnya.
Sudah kukasih tau via telp.![:-] :-]](http://infinite.inficio.info/smilies/yahoo_whistling.gif)
*komen nggak mutu*
Ingat kan, memperbaiki sistem, lalu penerapannya? Toh negeri ini membutuhkan itu.
mba-mba , koq themes nya mirip.. ah sudahlah
Klo menurutku , aku si setuju aja, kenapa gak ? kadang mereka pun melakukan hal yang berakibat walaupun bukan terbunuh instan, tapi fatal, dan akhirnya para korban pun terbunuh pelan
*pancal suprie*
Secara global, sebenarnya saya tidak keberatan ada hukuman mati, terutama untuk pelaku kejahatan berat. Mencegah residivis buat penjahat kelas kakap. Taapiii… rada gawat kalo diterapkan di negara yang hukumnya masih belum stabil. Apalagi kalo dikit-dikit “pancung!”, dikit-dikit “gorok!” Bisa gawat itu.
Kalau mau ada hukuman mati, menurut saya sebaiknya proses hukumnya dibikin yang benar dulu. Jangan ada mainan duit lah.
Bahaya itu. Kalau yang itu sudah benar, nah, terapkanlah hukuman mati pada kejahatan berat saja. Misalnya, desertasi militer atau terorisme. Yang mengancam keamanan negara juga.
Soalnya kan ini sampai mencabut nyawa segala ya, yang sempat diimplikasikan “melanggar HAM!” dan blablabla. Jadi sebaiknya dijadikan final solution saja. Jangan maling ayam dihukum mati. Himmler anyone?
Hm… saya sih setuju tidak setuju. Kalau dalam hukum islam hal tersebut diperbolehkan saja asal sesuai (dengan sesuatu yang saya lupa apa namanya).
Saya setuju dengan pendapat Kak Xaliber di atas, proses hukum yang harus dibikin benar dulu, tidak ada mainan duit dan kawan-kawannya yang serupa. Soalnya Indonesia sendiri bukan negeri yang menganut hukum islam (seperti Arab Saudi misalnya) juga bukan negeri yang menganut hukum-hukum sejenis negara-negara eropa (entah saya belum mengerti soal yang seperti ini).
Jadi jikalau ada tindak-tanduk mengenai yang namanya Hukuman Mati tentulah harus dengan ketentuan yang benar, seperti pelaku pembunuh ratusan orang yang dihukum bukan maling ayam
kalo mau ngehukum pelaku tindak kejahatan terhadap kemanusiaan, jangan hukuman mati… keenakan dia…masak sudah berbuat jahat tak karuan, lalu cuma mati?
harusnya kalo maunghukum yang seperti itu, beri dia hukuman yang lebih menyakitkan dari kematian, yaitu hidup yang menderita…
1. sayat-sayat kulitnya, lalu siram pake air garam/larutan asam (jangan yang terlalu keras, nanti dia mati…)
2. iket di bawah kereta api (jurusan bandung-kediri), lalu jalankan kereta ^_^
3. potong semua jarinya, lalu di seluruh badannya torehkan “pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan”, dan biarkan dia lepas.
terlalu sadis? tidak berperikemusiaan? kan saya sudah bilang sebelumnya, ini alternatif untuk hukuman mati…memangnya hukuman mati itu berperikemanusiaan?
Setuju
-> dalam beberapa hal gw pikir hukuman mati lebih ringan untuk dijalani daripada penjara. Ditambah lagi dengan tindakan orang indonesia yang suka ngasih stempel, jadi keluar dari penjara pun sebenarnya hukuman berlanjut lebih berat. Walaupun alasannya kejam, tapi menurut gw ini adil hehehe.
Hmm… terima kasih buat inputnya, semua~~
@ deniar: He? Benar juga ya… *catat*
@ Goen:
Iya, iya…
@ suprie: Themenya, mirip? Mirip siapa toh?
” *berlagak nggak tahu*
@ Xaliber von Reginhild: Yes, sire…
Memang hukuman mati sewajarnya sebagai last resort
@ Raditya T: Kalau dalam Islam, bila tidak salah, hanya pelaku tindakan kriminal yang berat yang dihukum mati. Dan pihak keluarga korban dapat memilih untuk menghukumnya mati, atau memaafkannya dan membiarkannya hidup. CMIIW.
@ Radix: Lha, dibandingkan itu hukuman mati jelas-jelas lebih manusiawi. Disini hukuman mati jangan hanya dipandang sebagai retribusi tindakan kriminal, tetapi juga sebagai medium prevensi dong… *halah*
@Radix:
Wah, kalau seperti itu, berarti tak ada bedanya dengan hukuman-hukuman pada zaman dulu dong… seperti pembedahan perut atau diinjak gajah. Justru hukuman mati zaman sekarang dibuat yang bisa ‘one-hit-kill’ supaya ngga terlalu menyiksa, kan, terutama terkait isu-isu HAM.
@manda: prevensi? gw pikir orang bakal lebih mikir 2 kali untuk berbuat kejahatan kalo hukumannya diinjak gajah ataupun disayat2 kulitnya daripada mati.
@xaliber: saya kan sudah bilang, ini alternatif untuk hukuman mati>>kita ganti hukuman mati dengan yang lebih menyakitkan daripada mati. ugh.
@ Radix: Haha, mungkin akan membuat orang lebih takut, tapi bisa dikejar-kejar aktivis HAM, karena itu benar-benar tidak manusiawi. Lagipula, menyiksa itu tidak diperbolehkan, toh hukuman mati saja hanya digunakan sebagai last resort sementara rehabilitasi masih memungkinkan.
Ya, terutama… yang dikatakan Xaliber: isu-isu HAM.
saya tidak setuju keberadaan hukuman mati, mari kita lihat dari sisi kemanusiaannya. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah…even dia itu orang yang sangat jahat, bebal juga, ga tau diri…tapi apabila tiba waktunya, mereka bisa bertobat juga. Dilihat dari sisi nilai ekonomis, sebenarnya tenaga mereka itu masih bisa dimanfaatkan, coba pikirkan ttg penjara di amerika (kayaknya yang jaman dulu)…disana narapidana dipekerjakan (membangun bendungan, membuka jalan, melakukan pekerjaan kasar) dengan diberi asupan gizi yang cukup pula…nah, menguntungkan bukan?
Coba kayak di china, ketemu orang korupsi, tembak di tempat. Orang ngebunuh, diadili lalu ditembak. Bukan hanya dihukum mati, organ tubuh mereka juga dijual oleh pemerintah…serem
hohoho…salam kenal yah
Kalau narapidana dipekerjakan seperti itu, bagus juga. Tenaga kerja, hohoho… *kenapa disini tidak dong…*
Organ tubuh dijual… ya, paling tidak kita tahu paling tidak sang koruptor berguna dari segi fisik~ *digebuk karena ngaco*
Nggak lah, saya nggak sesadis itu… Tetapi paling tidak, kalau mengambil segi positifnya, Cina tegas dalam menegakkan peraturannya dan tingkat kriminalitas pun berkurang. Cuma ya… sadis juga ^^;;