Entah kenapa, akhir-akhir ini saya jadi sering menulis dalam bahasa Indonesia. Dan apa yang menjadi topik bahasan nggak jelas saya kali ini? Cerita tentang sebuah kendi yang retak pada sisinya. Hahaaa…

Ya, silahkan:

Seorang pengangkut air memiliki dua kendi, yang dia pikul di pundaknya ke sungai tiap hari untuk mengambil air. Salah satunya memiliki suatu retakan, dan sementara kendi yang satunya tidak cacat sama sekali. Setelah perjalanan panjang dari sungai, kendi yang retak hanya bisa mengantarkan setengah dari jumlah penuh yang bisa diantarkan kendi yang tidak retak. Selama dua tahun, inilah yang terjadi tiap hari.

Tentu saja, kendi yang tidak retak bangga akan keberhasilannya menjalani apa yang sudah menjadi tujuan ia diciptakan. Tetapi kendi retak yang malang merasa malu karena ketidaksempurnaannya, dan merasa sedih karena hanya dapat melaksanakan tugasnya setengah dari yang seharusnya ia bisa. Oleh karena itu, memandang dua tahun bekerjanya sebagai suatu kegagalan, suatu hari ia berbicara kepada sang pengangkut air di pinggir sungai yang biasa mereka datangi,

“Aku malu pada diri sendiri, dan aku ingin meminta maaf padamu.”

“Kenapa?” tanya sang pengangkut air. “Apa yang membuatmu malu?”

“Aku hanya bisa, selama dua tahun ini, mengantarkan setengah dari jumlah air yang seharusnya karena retakku membuat air dari dalamku mengalir keluar hingga begitu kau mencapai rumah tuanmu, hanya tersisa setengah. Karena ketidaksempurnaanku kau tidak mendapatkan hasil yang sepenuhnya dari kerja kerasmu,” ujar kendi tersebut.

Pengangkut air itu merasa kasihan kepada kendi yang retak, dan dengan lembut ia mengatakan,

“Saat kita kembali ke rumah tuanku, aku ingin kau memperhatikan bunga-bunga yang ada pada sisi jalannya.”

Dan ketika mereka berjalan mendaki bukit, kendi retak itu berusaha memperhatikan bunga-bunga di sisi jalan yang indah, dihangatkan sinar matahari. Tetapi pada akhir perjalanan, ia masih merasa bersalah karena telah membiarkan setengah dari air yang dibawanya mengucur keluar, dan sekali lagi ia meminta maaf kepada sang pengangkut air.

Lelaki itu mengatakan pada kendinya,

“Apakah kau menyadari bahwa bunga-bunga itu hanya tumbuh pada sisi jalan dimana aku memikulmu, dan tidak pada sisi kendi yang lain? Itu karena aku sudah mengetahui ketidaksempurnaanmu itu sejak dulu, dan aku memanfaatkannya. Aku menanam beberapa biji tanaman pada sisi jalanmu, dan setiap hari pada perjalanan pulang kau telah menyiramnya. Selama dua tahun, aku dapat memetik bunga-bunga ini untuk tuanku. Bila kau tidak seperti dirimu sekarang, rumah tuanku tidak akan terhias oleh keindahan ini.”


Mungkin sebaiknya kita bersikap seperti sang pengangkut air; daripada mengeluh mengenai ketidaksempurnaan kendinya, ia memanfaatkannya dan membuatnya ‘sempurna’ dengan caranya sendiri bukankah lebih baik bila dia menambalnya saja ya.

Kita semua memiliki ketidaksempurnaan sendiri. Kita semua kendi yang retak, tetapi bukan berarti kita semua tidak dapat melakukan pekerjaan kita dengan baik. Kita hanya harus mencari cara untuk memanfaatkan ketidaksempurnaan kita itu, untuk membuat bunga-bunga yang berada pada sisi jalan kita tumbuh dengan indah.

Kita harus dapat menerima ketidaksempurnaan. Ada banyak kebaikan di balik ketidaksempurnaan orang lain, dan ada pula banyak kebaikan di balik ketidaksempurnaan kita sendiri. Apa yang kita anggap sebagai kelemahan; ketidaksempurnaan, dapat menjadi apa yang membuat kita berbeda dan lebih dari yang lain.

Intinya: There’s good in everybody? :p

*gajelas*