31.08.08Sumber Kebahagiaan

“I wonder if by becoming a good bread and being needed, I would become happy…”
Karena saya sudah beberapa kali dikomentari bahwa post-post saya tidak dimengerti dalam Bahasa Inggris, akhirnya saya memutuskan untuk menulis post kali ini dengan Bahasa Indonesia dengan agak terpaksa. Dan kali ini, apa yang akan saya bahas? Sebuah topik yang sering saya pikirkan, yaitu kebahagiaan.
Saya diberi tugas aneh oleh ibu saya yang hendak muncul di suatu siaran TV untuk mencari bahan mengenai konsep kebahagiaan, dan apa sebenarnya kebahagiaan? Pada saat itu, saya menemukan suatu kutipan dari Dalai Lama ke-14, dari bukunya (if I’m not wrong) Ancient Wisdom, Modern World: Ethics for a New Millennium. Yang telah saya terjemahkan dengan parah ke bahasa Indonesia:
Coba pikirkan yang berikut ini. Kita, manusia, adalah makhluk sosial. Kita datang ke dunia ini sebagai akibat dari tindakan orang lain. Kita bertahan hidup disini dengan bergantung pada orang lain. Kita menyukainya atau tidak, jarang sekali ada saat dalam hidup kita dimana kita tidak mendapatkan keuntungan dari tindakan orang lain. Karena itu, tidak mengejutkan bahwa sebagian besar dari kebahagiaan kita berada dalam konteks hubungan kita dengan orang lain.
Juga tidak mengagetkan bahwa kebahagiaan terbesar kita datang saat kita termotivasi oleh rasa peduli terhadap orang lain. Bukan hanya itu; kita juga bisa menemukan bahwa tindakan yang mengutamakan kepentingan orang lain tidak hanya mendatangkan kebahagiaan, tetapi juga membuat kita lebih sedikit mengalami penderitaan. Dengan ini, saya tidak mengimplikasikan bahwa seseorang yang tindakannya terpicu oleh keinginan untuk membawakan kebahagiaan pada orang lain akan bertemu dengan lebih sedikit bencana. Penyakit, penuaan, dan berbagai macam kecelakaan sama bagi kita semua. Tetapi penderitaan yang mengurangi ketenangan batin kita — kekhawatiran, keraguan, kekecewaan — jauh lebih sedikit. Dengan memikirkan orang lain, kita lebih sedikit mengkhawatirkan diri sendiri. Ketika kita lebih sedikit mengkhawatirkan diri, kita tidak akan sebegitu merasakan penderitaan kita sendiri.
Apakah yang ini beritahukan pada kita? Pertama, karena tiap tindakan kita memiliki suatu dimensi universal, potensi untuk memberi dampak pada kebahagiaan orang lain, etika dibutuhkan sebagai alat untuk menjaga kita dari melukai orang lain. Kedua, bahwa kebahagiaan yang sebenarnya terdiri dari sifat-sifat spiritual dari cinta, kasih sayang, kesabaran, toleransi, pengampunan, dan sebagainya. Karena hal-hal inilah yang memberikan kebahagiaan, baik bagi kita sendiri maupun orang lain.
Karena kebetulan besok saya dan seluruh umat Islam akan menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, saya juga jadi merenungkan apa yang sebenarnya dapat membuat saya bahagia (lho?). Dan saat membaca kutipan itu, saya berpikir: ‘Ah, benar juga’. Saya senang bila saya dibutuhkan orang lain, tetapi saya juga senang bila saat saya membutuhkan orang lain, mereka dengan senang hati membantu saya, sebagaimana saya membantunya dengan tulus. Ini juga membuat saya teringat dengan kutipan lain dari Dalai Lama ke-14: ‘Jika kau ingin orang lain bahagia, praktekkan kasih sayang. Jika kau ingin bahagia, praktekkan kasih sayang.’
Bagian pertama yang menarik perhatian saya adalah paragraf terakhir: kalimat yang menyatakan bahwa etika dibutuhkan untuk menjaga perasaan orang lain. Seringkali kita melupakan bahwa sebagaimana pengaruh luar dari tindakan orang lain dapat memberi pengaruh signifikan pada kita, kita juga dapat melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Sebuah ucapan kecil yang insensitif, atau tawaan yang out-of-place, walau kita lupakan secepat kita melakukannya, bisa membekas di hati orang lain. Kita harus menjaga perbuatan dan ucapan kita, agar tidak melukai orang lain. Namun ini juga berarti bahwa kita juga harus mengingatkan diri, bahwa kadang saat kita merasa terluka karena tindakan orang lain, bukan berarti mereka selalu bermaksud buruk.
Tetapi inti dari kutipan di atas adalah, sumber dari kebahagiaan itu bukan kekayaan, ketenaran, kekuasaan, atau hal-hal lain yang biasa dikejar manusia. Kadang manusia mendambakan hal-hal itu tanpa mengetahui alasan mengapa mereka menginginkannya. Padahal, menurut saya, dengan mendapatkan hal-hal seperti itu, seseorang bisa memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap orang lain, dan inilah yang dapat membuat mereka lebih bahagia.
Dengan segala hal itu, seseorang bisa melakukan great good, atau mereka bisa menjadi greatly corrupt, haha. Tetapi mengapa tidak memilih opsi pertama? Mendambakan power itu ibaratnya meminum air laut; semakin banyak diminum, semakin haus rasanya.
*ditabok karena membuat perbandingan ngasal*
Jadi, ada alasan lain untuk berbuat baik pada bulan Ramadhan, dan sepanjang hidup seusai bulan ini. Dengan mempedulikan orang lain, dan berbuat baik terhadap sesama, yang kita bahagiakan bukan hanya orang lain. Kita sendiri juga akan mendapatkan kebahagiaan dari suatu hal yang sangat simpel: kebahagiaan memberi.
*nggak jelas*
Pengumuman yang agak out-of-topic: Membicarakan kebahagiaan memberi, memiliki perasaan yang istimewa terhadap satu sama lain dapat meningkatkan kebahagiaan ini ke tingkat yang lebih jauh. Jadi, saya katakan saja dalam bahasa Inggris yang lugas dan mudah dimengerti:



tulisan yang bagus,amanda.
yups, kebahagiaan memang kunci dalam kita hidup di dunia ini. kebahagiaan tidak melulu datang dari harta dan sesuatu yang kelihatannya mewah, tetapi kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang datang dari dalam diri, bisa berupa kasih sayang, penghormatan, dan cinta kasih sesama.
met menjalankan shaum ramadhan, yah…
Tulisan yg menarik. Salam kenal ya..
Aha..terimakasih..sudah. ee apa.. itu namanya, menulis dalam bahasa indonesia. Sehingga saya bisa mengerti..
Tetapi tidak apa juga campur campur saja dengan bahasa inggris.
Nanti mungkin saya akan ambil waktu, belajar juga bahasa itu apa inggris.
Tulisannya bagus sekali..
Salah satu tulisan terbagusmu, aku salut
dan banggaloh.Nah, nah. Menulis dengan Bahasa Inggris itu bagus. Tapi seimbangkan juga dengan Bahasa Ibu. Mengapa? Dengan menggunakan Bahasa Ibu itu sudah sedikit menunjukkan kecintan kita pada tanah air. Nggak selalu harus Bahasa Ibu kok, Lensa. Cuma yah lakkan penjatahan yang baik saja. Ada kalanya menggunakan Bahasa Inggris (ya, katanya untuk membiasakan), tapi jangan lupa juga untuk terus belajar menggunakan Bahasa Ibu. Karena sepandai-pandainya manusia, ia tidak akan bisa menguasai Bahasa Ibu dengan sempurna. Janganlah meremehkan Bahasa Ibu, seperti bagaimana banyak orang meremehkan pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di bangku sekolah. Bahasa Ibu itu sesulit bahasa-bahasa lain. Tapi bahasa memang persoalan komunikasi dan sinkronisasi antara individu-individu yang menggunakanannya, jadi, usahakan untuk bisa berkomunikasi dengan individu-individu di sekitarmu dengan baik. Salah satunya ya dengan memakai Bahasa Ibu.
…oh ya, Bahasa Ibu yang aku maksudkan di sini adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bukan bahasa yang bersifat kedaerahan atau kesukuan.
Karena itu aku melihatmu sebagai sosok yang sangat-sangat memikirkan hubungan timbal balik. Ya, aku tahu kamu tidak suka dianakemaskan, karena itu sama saja menganggapmu tidak bisa apa-apa. Padahal kamu juga manusia yang menginginkan kebebasan bukan? Kamu ingin keluar dari kepompong emas yang dijalin selama bertahun-tahun oleh orang-orang di sekitarmu, oleh mereka yang menganggapmu sepolos kapas dan tidak ingin agar kamu melihat busuknya dunia? Bukannya memberimu kebahagian, tapi itu justru mengekangmu secara psikis dan terus-terusan memanjakanmu, menganggapmu terus saja polos. Hahaa… Hubungan timbal balik dengan kasih sayang, seperi ajaran Kristus akan kasih dan cinta universal.
Analogi yang bagus kok. Lagipula toh semakin banyak power yang ada, semakin tinggi pula kecenderungan untuk disalahgunakan.
Aih, aiiiihh….
Penutupannya, seperti dialog di penghujung buku Bumi Manusia-nya Pram.
Maka terus berusalah, sayang.
Wah, hore, saya dapat komen… *digebuk*
@ Yudha P Sunandar:
Iya, dan kebahagiaan seperti itu saya rasa sifatnya tidak temporal. Karena itu cara menjalani hidup, sehingga kita pun akan merasa bahagia sepanjang hidup. *ngaco*
@ Anis:
Wedew, terima kasih…
Salam kenal juga, ya.
@ Aki Herry:
Anda bukan satu-satunya yang complain soal itu
Ya, ada kalanya saya juga harus menulis dengan bahasa Indonesia, walau sebenarnya saya ingin melatih bahasa Inggris biar nggak karatan juga~ Hoho, bahasa Inggris kan bahasa internasional, pelajari saja… *ditabok karena sok promosi*
Duh, baguskah? Terima kasih atas pujiannya…
@ Bethla Garrison:
AKHHH!! Justru ini salah satu pelajaran tersulit… *nilai UAN Bahasa Indonesia yang paling rendah nih, dibanding Matematika dan Bahasa Inggris!*
Lha, justru aku nggak bisa bahasa kedaerahan…
*dibacok*
Aku tidak suka dianggap tidak bisa apa-apa, dan aku ingin mengetahui kebenaran… -_- Aku tidak suka dianggap sebagai orang yang tidak perlu mengetahui apa-apa, like you said. Nyem, kuharap hal yang ini akan berubah…
Mirip di bagian mananya xD
Mirip ya, miriippp… “Berusahalah, terus.” begitu.
Hmm. Satu hal yang tampaknya kecil bisa berdampak besar bagi orang lain ya. Such is the memory (or heart?) of humans…
Jadi, tampaknya lebih baik kalau berbuat baik setiap waktu, ya?
@ Bethla Garrison: I try my best, darling…
@ Xaliber von Reginhild: Kadang manusia suka membesar-besarkan segala hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri (?)
atau mungkin itu cuma saya. Ya, tentu saja lebih baik begitu! Berbuat baik membuat orang lain dan kita sendiri bahagia…@Deathlock-sama : Tidak mungkin manusia bisa berbuat baik sepanjang waktu. Sebaik2nya manusia pasti ada cacatnya. Menurut saya sebaiknya jika ada kesalahan tetaplah harus minta maaf
Menurut saya, inti dari seluruh kebahagiaan adalah cinta dan kasih sayang. Cinta dan sayang pada sesuatu itu membahagiakan bukan?