31.08.08“I’m Sorry” *send all*
Menjelang bulan Ramadhan, pada hari terakhir sekolah sebelum libur hingga Rabu, sekelas XII-**-* dimana saya berada penuh oleh ucapan maaf yang ditujukan pada setiap orang di kelas. Masih belum terbiasa dengan kebiasaan ini, saya hanya mengangguk ketika seseorang meminta maaf pada saya dengan sopan (walau berpikir ‘Wah, memang kapan kita pernah berbicara ya’).
Ya, mungkin Ramadhan memang saat yang tepat untuk menyadari bahwa mungkin kita berbuat salah terhadap seseorang tanpa menyadarinya sehingga opsi yang dipilih adalah untuk meminta maaf kepada tiap orang yang paling tidak dikenal namanya (atau bahkan tidak?).
Kepada semua yang meminta maaf pada saya, ya, saya ingin memaafkan saat ketika anda menyimpan contekan pada kolong meja anda. Saya juga ingin memaafkan saat anda berada dalam kelompok yang sama dengan saya untuk suatu tugas tanpa bekerja apa-apa dan hanya ‘numpang nama’. Tetapi saya tidak dapat melakukannya.
Ya, karena anda tidak pernah berbuat salah terhadap saya; anda berbuat salah terhadap diri sendiri. Mungkin saya sedikit dirugikan, tetapi tak apalah. Saya hanya mengkhawatirkan anda jadi apa nanti, jadi minta maaflah pada diri sendiri, bukan saya.
Biarpun anda pernah berbuat salah terhadap saya, kemungkinan besar saya sudah memaafkan sebelum anda minta maaf. Tetapi itu masih pemaafan yang ‘tanggung’. Dan pemaafan itu pun akan menjadi semakin ‘tanggung’ bila saya melihat sesuatu yang tidak saya suka, yaitu ketidaktulusan. Jadi, saya harap permohonan maaf anda bukan sekedar formalitas, atau mass-message, atau send-all yang tidak disertai niat yang tulus.
Jangan minta maaf hanya karena takut akan dibenci Tuhan bila kesalahanmu tidak dimaafkan… Bila tidak salah, lha buat apa minta maaf? Minta maaflah bila memang khawatir telah berbuat salah. Jangan tidak tahu alasan mengapa diri sendiri minta maaf.
So,
I. Hate. Formalities.
*ga jelas, lagi*
*dalam bahasa Indonesia pula!*
Benda nggak berguna harusnya bahasa Inggris, yes? ![]()


Hahahaaaa… Aku suka gayamu menulis ini.
…dan maaf-memaafkan itu setiap saat.
Definitely agree. Ad captandum vulgus, for real.
[...] sudah datang. Mohon maaf atas segala ketidakbergunaan yang sudah dihasilkan dari blog ini. Semoga acara maaf-maafan yang terjadi sebagai rutinitas tahunan ini bukan sekedar formalitas [...]
Maaf2an itu emang sering dijadiin formalitas. Bahkan cenderung menjadi tradisi di Indonesia. Mohon maaf jika saya sering ngacau di Gotei
Semoga acara maaf-maafan yang terjadi sebagai rutinitas tahunan ini bukan sekedar formalitas
meminta maaf dulu berarti menunjukkan kebesaran hati ….
kita nggak salamanya akan tau apakah da sesuatu yang membuat orang lain sakit hati … terkadang hal itu lebh krn ketidaksengajaan ataupun hal yg umum tp bagi orang lain itu menyinggung seseorang …
so minta maaflah utk kebesaran hati kita …
Karena sering dianggap sok formalitas, saya sudah sangat nyaman untuk tidak memberi ataupun meminta maaf.
Siul – siul~
Karena sering dianggap sok formal / sok baik, ada kalanya saya tidak meminta atau bahkan memberi maaf, baik itu lewat SMS ataupun tulisan kecuali diminta. Sombong ? Itu subjektif..
“
Mari belajar memaafkan dengan tulus,hehehe

@ Goen:
Iya, gimana sih. Maaf ya setelah berbuat salah, nggak usah nunggu bulan suci dulu, hitung-hitung biar pahala meminta maaf dikali-lipat
@ Xaliber von Reginhild:

@ Adriano Minami:
Ya, mengenai itu formalitas atau tidak, tergantung yang minta maafnya. Jika anda minta maaf dengan tulus, jelas itu bukan sekedar formalitas. Nah, jadi?
@ afwan auliyar:
“, kesannya? Nggak banget.
Memang, tetapi kalau minta maaf hanya karena just in case rasanya tidak ada nilainya. Minta maaf tanpa rasa bersalah, seperti, “Aku tidak salah apa-apa rasanya, tapi minta maaf deh
Tetapi bisa jadi begitu. Dan karena itu, saya jadi terlihat seperti orang yang sombong
*disate*
@ Mihael Ellinsworth:
Wah, saya juga jarang minta maaf pas awal Ramadhan kok. Saya sih minta maaf kalau saya berbuat salah saja, walau kalau tidak ada hal lain untuk dikatakan saya juga ikut meminta maaf karena sepanjang masa saya merepotkan kepada teman-teman terdekat
sebagai pengisi waktu.Lol, memang akan ada orang yang minta seseorang untuk meminta maaf padanya?
@ Max:
Ya, semoga begitu
@ Goen:
Iya, gimana sih. Maaf ya setelah berbuat salah, nggak usah nunggu bulan suci dulu, hitung-hitung biar pahala meminta maaf dikali-lipat
@ Xaliber von Reginhild:

@ Adriano Minami:
Ya, mengenai itu formalitas atau tidak, tergantung yang minta maafnya. Jika anda minta maaf dengan tulus, jelas itu bukan sekedar formalitas. Nah, jadi?
@ afwan auliyar:
“, kesannya? Nggak banget.
Memang, tetapi kalau minta maaf hanya karena just in case rasanya tidak ada nilainya. Minta maaf tanpa rasa bersalah, seperti, “Aku tidak salah apa-apa rasanya, tapi minta maaf deh
Tetapi bisa jadi begitu. Dan karena itu, saya jadi terlihat seperti orang yang sombong
*disate*
@ Mihael Ellinsworth:
Wah, saya juga jarang minta maaf pas awal Ramadhan kok. Saya sih minta maaf kalau saya berbuat salah saja, walau kalau tidak ada hal lain untuk dikatakan saya juga ikut meminta maaf karena sepanjang masa saya merepotkan kepada teman-teman terdekat
sebagai pengisi waktu.Lol, memang akan ada orang yang minta seseorang untuk meminta maaf padanya?
@ Max:
Ya, semoga begitu
Lagipula meminta maaf nggak harus secara lisan melulu. Lisan ya maaf, tapi hati siapa yang tahu? Tunjukkan dengan perbuatan, dan minta maaf yang tulus itu nggak mengedepankan ego.
Meminta maaf bukan berarti kita disudutkan pada opini bahwa kita adalah makhluk tercela yang bersalah bukan?
[...] Banyak orang yang menganggap maaf2an itu sebagai suatu formalitas , jadi sekalipun orang yang belum dikenalpun meminta maaf tanpa alasan yang jelas. Yah saya juga sering kayak begini saya akui, namun tahun ini tidak kok. Karena saya pikir seperti ini biasanya tidak dari hati [...]
Lama-lama jadi kehilangan maknanya, ya?
Saya kira juga begitu. Kalau minta maaf “betulan”, biasanya ada sedikit rasa malu dan gengsi. Tapi kalau pada “waktunya” seperti ini, rasanya kok biasa-biasa saja. Jadi hambar.
Tapi mungkin juga ada yang beneran niat.
*telat nyadar ternyata ada komen disini*
Ya, begitulah…
Saya jadi teringat teman sekelas saya:
Dia: Manda, minta maaf ya…
Saya: Lho, bukannya sudah ya
Dia: Err… ya udah deh, gapapa, minta maaf lagi aja…
-__-
Kok malah lebih susah ya mengucapkan maaf yang genuine? Mungkin karena pada bulan ini semua orang lain melakukannya sehingga tidak merasa memalukan untuk merendah diri.
*digebuk*