Menjelang bulan Ramadhan, pada hari terakhir sekolah sebelum libur hingga Rabu, sekelas XII-**-* dimana saya berada penuh oleh ucapan maaf yang ditujukan pada setiap orang di kelas. Masih belum terbiasa dengan kebiasaan ini, saya hanya mengangguk ketika seseorang meminta maaf pada saya dengan sopan (walau berpikir ‘Wah, memang kapan kita pernah berbicara ya’).

Ya, mungkin Ramadhan memang saat yang tepat untuk menyadari bahwa mungkin kita berbuat salah terhadap seseorang tanpa menyadarinya sehingga opsi yang dipilih adalah untuk meminta maaf kepada tiap orang yang paling tidak dikenal namanya (atau bahkan tidak?).

Kepada semua yang meminta maaf pada saya, ya, saya ingin memaafkan saat ketika anda menyimpan contekan pada kolong meja anda. Saya juga ingin memaafkan saat anda berada dalam kelompok yang sama dengan saya untuk suatu tugas tanpa bekerja apa-apa dan hanya ‘numpang nama’. Tetapi saya tidak dapat melakukannya.

Ya, karena anda tidak pernah berbuat salah terhadap saya; anda berbuat salah terhadap diri sendiri. Mungkin saya sedikit dirugikan, tetapi tak apalah. Saya hanya mengkhawatirkan anda jadi apa nanti, jadi minta maaflah pada diri sendiri, bukan saya.

Biarpun anda pernah berbuat salah terhadap saya, kemungkinan besar saya sudah memaafkan sebelum anda minta maaf. Tetapi itu masih pemaafan yang ‘tanggung’. Dan pemaafan itu pun akan menjadi semakin ‘tanggung’ bila saya melihat sesuatu yang tidak saya suka, yaitu ketidaktulusan. Jadi, saya harap permohonan maaf anda bukan sekedar formalitas, atau mass-message, atau send-all yang tidak disertai niat yang tulus.

Jangan minta maaf hanya karena takut akan dibenci Tuhan bila kesalahanmu tidak dimaafkan… Bila tidak salah, lha buat apa minta maaf? Minta maaflah bila memang khawatir telah berbuat salah. Jangan tidak tahu alasan mengapa diri sendiri minta maaf.

So,

I. Hate. Formalities.

*ga jelas, lagi*

*dalam bahasa Indonesia pula!*

Benda nggak berguna harusnya bahasa Inggris, yes? :P