14.06.08Laporan Ulangan Umum
Dan kini, ulangan akhir semester pun telah berakhir bagi saya! Alangkah bahagianya (terutama begitu mengetahui bahwa saya tidak harus mengikuti remedial Fisika! Yay!), jadi untuk sementara mari lupakan ulangan susulan Biologi dan PKn, serta tugas-tugas yang belum dikumpulkan untuk minggu depan…
Jadwal Harian Ujian:
1. Datang terlampau pagi karena salah membaca jadwal ulangan. Meratapi kebodohan sendiri, kesal melihat ada seorang adik kelas lelaki yang mengambil alih tempat duduk dan malas menyuruhnya menyingkir, sehingga mondar-mandir di sekolah tanpa tujuan.
Begitu teman kunjung datang, melongo bingung melihat keduanya yang berbicara mengenai sepakbola yang sama sekali tidak dimengerti (tepatnya, EURO 2008). Bel berbunyi, teman-teman kabur ke kelasnya masing-masing.
2. Saatnya berdoa! Dan jujur, ini doa yang saya bacakan tiap pagi:
Dear God, I hope that I will do well in this exam since I’ve already studied hard for it! I hope that I won’t be tempted to cheat, since that would technically be the same as stealing something I don’t deserve and won’t be fair and all, and I hope that those who cheat will get caught and learn that cheating isn’t right!
… dst. Yang kebanyakan mengenai “Semoga yang licik tertangkap!”
Yes, I am lame…
Seterusnya:
3. Mengerjakan ujian, tanpa mengecek ulang jawaban kecuali bila sudah tidak ada kerjaan lagi. Berlagak seolah-olah menjadi mata-mata pendeteksi orang nyontek, mencatat namanya dalam kepala. Batuk keras dan mengetuk meja keras-keras dengan pensil untuk menarik perhatian guru agar menyadari bahwa orang di sekitar nyontek, namun guru seakan tidak menghiraukan.
Kemudian menghentak meja lebih keras bukan untuk menarik perhatian, namun karena kesal. Meratapi krisis moral di SMAN 1 Bandung. *siap digebukin satu sekolah*
4. Menggambar di kartu ujian maupun lembaran soal. Hingga pada suatu saat, seorang guru pun berkomentar bahwa anak-anak IKARIS (Ikatan Remaja Islam) SMAN 1 mengatakan bila menggambar suatu karakter full-body harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti dan akan meminta nyawa. Atau semacamnya, haha.
5. Menunggu di depan kelas teman. Pertama kalinya saya masuk ke kelasnya seenaknya saja sementara guru pengawasnya masih ada, dan saya pun diusir. Hahaha. Seusai ulangan-ulangan sejenis Fisika dan Kimia, setelah melihat ‘public display of affection immorality’, menggerutu mengenai seberapa menyedihkannya manusia.
Humans are disgusting, lowly creatures! And it’s like, the teachers are ignoring all those criminal acts right under their eyes! I swear, I’m going to chop them with a blunt knife into tiny pieces and turn them into smaller pieces with a rusty blender, and then I will process them through a pasta machine and then leave them to rot and when they become leftovers I would have tried to turn them into garden fertilizers were they not so disgusting even Earth’s soil will reject them, and instead transport them to Neptune where they will drown in ammonium…
… dst?
Yes, now you get to find out how much lamer I am. Yay.
6. Makan! Nggak mau tahu, pokoknya seusai ujian langsung makan… ![]()
*entry super nggak berguna*


Saya sepenuhnya mengamini yang ini. Amin. Karena di tempat saya sudah lolos.
Hm, dari entri ini saya lihat bahwa sekolah Anda merupakan sekolah yang cukup relijius secara teknis, sampai-sampai menggambar makhluk bernyawa saja dapat komentar. Tapi di sisi lain menghalalkan menyontek?
Anyway, good luck.
Di tempat saya juga
Dan yang menyebalkannya, sepertinya gurunya memang pura-pura ga lihat…
Ahaha, ironis, ya? Memang begitu Indonesia… *ditabok karena generalisasi*
Thanks… karena katanya Biologi susah! xP Hohoho, semoga guru-guru telah melupakan tugas-tugas yang telah saya terlantarkan…
” *ga mungkin*
Baidewai, hasil ujian anda sendiri?
Mengesalkan mendengar ceritamu mengenai polisi yang pura-pura tidak tahu saat para pencuri beraksi.
Pencuri, seperti yang kubilang, silahkan sana mencuri, dan tanggung akibatnya! Tapi mengesalkan jika polisi ternyata tidak tegas, apalagi pura-pura tidak melihat aksi pencuri, bahkan ada yang membantu pencuri!
Religius? Hahahaaa… Dengan ada guru yang mewajibkan memakai kerudung?
*disepak
Selamat berjuang di hari Senin nanti~
Exactly!
Iya… tinggal Biologi, PKn, serta banyak tugas yang menumpuk, yeiii
*dilempar*
Huuh, pemaksaan pemakaian kerudung sudah tidak begitu sering lagi, kok. Guru mulai pasrah soal itu…
PKn itu mudah, tenang saja.
Haaaa? Sudah ga sering? Ga seru lagi dong, padahal hari Jumat nanti aku mau liat kamu pakai….

Coba pas elajaran agama wajib pakai, dan beberapa pelajaran lain juga…
*diseret*
*Lirik kanan-kiri*
[sarkas]Yah, kalau dibilang 80% sekolah saja bergantung pada teknik ‘mencuri’, bisa dibilang 20%nya sudah termasuk minoritas. Yah, gunakanlah kekuasaan dan pengaruh ketika kau punya…?
[/sarkas]
Habis ulum emg plg enak ditutup m makan2! XD
Mengomentari nomor :
(2) Ya, sebetulnya mencontek adalah dilarang, ya…masuk juga kedalam upaya korupsi sejak dini. Namun tak dapat dipungkiri bahwa menyontek dan memberi contekan sendiri, bagi saya pribadi (Anak IPS), adalah suatu bentuk kejadian dan pembelajaran sosiologi.
Betapa pendosanya saya.
(3) Berekor dari nomor 2, saya jadi sumber untuk 4 mata pelajaran. Jadi..
(4) Ya, pendosanya saya. Bahkan aku benar – benar tidak mengerti mengapa menggambar adalah sesuatu yang dilarang. Bagaimana jadinya saya dengan kemampuan yang tidak sengaja didapatkan ini ?
Pendosa.
Hmm… Kalau saya sih cuekkin saja… Pura-pura berkonsentrasi dengan ulangan, walaupun sebenarnya gak bisa dan malah ketiduran…
Biarkan mereka jatuh ke dalam dosa mereka sendiri… Kesel sih memang, tapi saya lebih memilih menjauhi konflik… *diinjek*
Melihat guru-guru yang ‘tutup mata’ seperti itu jadi ingat UAN pas SMP, dimana guru pengawas yang dari luar itu bukannya mengawas malah baca koran! Otomatis ruangan kelas langsung dipenuhi dengung-dengung ‘lebah’ yang sibuk dengan aktivitas mencontek… =_=a
Pas gath traktir dong~
*digiles karena komen gak jelas*
@ masamune11:
@ Me-u:
Iya… apalagi kalau bukan kita yang bayar makanannya, hehe
*ditabok*
@ Mihael Ellinsworth:
Ohmigod! Anda jadi narasumber buat para mesin fotokopi yang jalan tanpa listrik itu? Sementara saya…
Teman A: Manda… nanti bantuin pas Fisika ya…
Saya: Nggak
……….. Sama
@ Terrazaru:
Hoi, masih mending… Daripada di SMP saya, pengawasnya malah bikin origami.
Baidewai… kok minta traktir ke saya? Saya kan pelit… Minta ke papamu dong. *digebukin*
pertama, saya ucapkan selamat atas ketabahan anda untuk menahan diri agar tidak mencontek!
ya begitulah akibatnya kalau nilai menjadi Tuhan, maka apapun akan dilakukan demi mendapatkan nilai! tak peduli proses, tetapi mementingkan hasil. padahal, hasil yang baik hanya didapat dari proses yang baik. oke, dari kasus manda, proses mencontek memang akan menghasilkan nilai yang baik, tetapi tidak dengan ilmu yang bermanfaat. berbeda dengan kalau belajar tekun, (yang jujur saja, tidak pernah saya lakukan :D
yang insya Allah tidak hanya nilai baik, tetapi juga ilmu yang bermanfaat.
jadi, pilihannya sekarang: mau dapat nilai atau sekalian dengan ilmu?
Akhirnya saya ada teman.
Btw, sebenarnya cara yang bagus untuk mengetahui para penyontek adalah dengan menyelipkan informan rahasia di antara para murid.
Hore! High-five!
*salah penggunaan smiley*
Daripada saat pertama kali balik ke Indonesia, terlalu takut untuk menolak jadi memberikan jawaban yang salah… lebih baik tidak disukai karena menjunjung prinsip sendiri daripada karena melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak suka.
*ditabok karena sok idealis*
Hehe… keren juga kalau menjadi mata-mata di kalangan murid…
Walau sebenarnya saat ulangan susulan tahun lalu saya sudah melakukan hal yang serupa dengan melaporkan beberapa pencontek pada guru pengawasIntinya… saya siap jadi volunteer
Dasar OL ga bilang-bilang…*teringat ujian PKn dan Sosiologi*
Guru mengutus mata-mata itu adalah hampir mustahil. Wong dulu pas masih jadi pelajar aja mungkin nyontek, lha gimana pas jadi guru?
Oh iya, cara ini juga bisa dipakai.
Saya pernah pakai beberapa kali pada teman menyebalkan yang nanya (kurang lebih) tiap 2 nomor sekali.
*dibakar*
Benar sih, tapi saya pernah jadi sukarelawan untuk ini.
Lumayan, hanya saya yang dapat nilai lumayan sementara yang lain 0 (karena seisi kelas nyontek). 
*bersenang2 di atas derita orang*
Itu adalah schadenfreude, Tuan…
aka istilah kerennyaApa?? Licik… saya juga mau menjadi sukarelawan untuk hal semacam itu…
*siap ditimpuk anak sekelas*
O ya ya, kemarin mau ngecek kamus untuk istilah kerennya tapi buka kamusnya lambat (kamus di HP), jadi malas.
Justice shall prevail.
*terdengar seperti Tousen?*
Tergantung gurunya lagi kalau soal lapor-melapor, harus selektif terhadap guru.
Lagipula bukti harus cukup~
Ketidakahlian teman-teman saya kalau menyontek itu jawabannya disalin plek… cuma dipersingkat atau diperpanjang aja. Jadi kalau konsep dasar dari jawabannya tahu, ketahuan kalo nyontek.
Kebetulan waktu itu esai.
Lagipula seharusnya murid teladan dipercaya. *ditendang*