08.06.08Discourse 16: Jalal ad-Din Rumi
Siapapun yang dicintai itu cantik. Namun, kebalikannya tidak selalu benar. Tidak semua yang cantik dicintai.
Kecantikan adalah bagian dari dicintai; dicintai adalah bagian utamanya, sehingga ketika
kualitas itu ada, kecantikan selalu mengikuti. Suatu bagian dari sesuatu
tidak dapat dipisahkan dari yang seutuhnya. Bagian itu harus tetap ada padanya.
Pada masa Majnun ada banyak gadis yang jauh lebih menawan dari Layla
tetapi dia tidak mencintai mereka. Ketika diberitahu, “Ada banyak gadis
yang lebih cantik dari Layla. Biarkan kami menunjukkannya padamu,”
dia selalu menjawab,
“Aku tidak mencintai Layla untuk bentuk luarnya. Dia bukan bentuk luarnya;
dia seperti sebuah gelas yang kugenggam dan kuminum anggur darinya. Dan
oleh karena itu, aku jatuh cinta pada anggur yang kuminum. Kau hanya melihat cangkirnya
dan tidak menyadari keberadaan anggur itu.
“Apakah gunanya suatu cangkir emas bagiku
bila diisi oleh cuka atau sesuatu selain anggur? Bagiku, kendi retak yang
terisi dengan anggur jauh lebih baik dari seratus cangkir seperti itu.”


To love what’s inside, not the outside.
If only everbody think like that…
Life would be beautiful.
Don’t you think?
*dilempar karena ngaco*
Layla dan Masmun…
*digiles Masmun*
eh… tapi saiyah mah masih milih gelas emas yang bisa dijual untuk bergalon-bergalon anggur dengan kendi retak sebagai wadahnya…
Seperti inilah yang kusuka, nak.
Ketika kita selalu berusaha mencari yang lebih, lebih menawan, lebih cantik, lebih menarik, kita tidak akan pernah mendapatkannya. Karena itulah tanda ketidakpuasan kita. Kita mencintai yang lebih cantik, namun betapa terperanjatnya kita begitu mengetahui ada yang lebih cantik lagi, berpindahlah kita. Begitu seterusnya hingga kita beretorika dalam nafsu kita sendiri. Tidak akan pernah selesai, karena selalu ada sesuatu yang lebih. Atau bahkan ujung-ujungnya akan menggugat tuhan sebagai causa prima?
Ya, kau hanya melihat bingkainya, kau melihat figuranya, kau melihat warnanya, garisnya, komposisinya. Apakah kau menyadari esensi dan pesan yang kusampaikan? Entah.
Jika kau punya keberanian, mengapa tidak menyatakan saja apa yang kau dapat?
Sama yang kulakukan dengan fotografi kan? Benar-benar sejalan dengan pemikiranku.
Komen bahwa gambar ini luar biasa, gambar ini keren, gambar ini rapi… Tapi apakah kita hanya melihat gelasnya saja?
*disambung nanti, masih ada yang ingin diketik tapi lagi kerja*
Life would be beautiful indeed…
*ditimpuk*
Sempat terlintas di pikiranku untuk mengatakan hal serupa… hng, anggap saja gelasnya tidak boleh dijual dan hanya boleh digunakan untuk minum. *dilempar*
Exactly. =.=b
Ya… sometimes it’s hard to see the inside, because of exactly that… it’s not quite visible.
Or, what if one lacks the courage to search beyond the glass, in case they do not find wine but vinegar in its place?
*mulai ngawur*
*kembali belajar buat ulangan*
All girls are beautiful, btw.
Aha, mendapatkan sesuatu tanpa pengorbanan? Ya jika ada uang kita bisa mendapatkan anggur. Tapi jika tidak? Jual saja
kameranyagelasnya.You’ll never know what you’re going to
loveget until you try it.Kembali ke statement awalku, jika kamu terus menerus mencari sesuatu yang lebih jelas, maka kamu nggak akan mendapat apa-apa. Kamu berputar-putar sendiri dengan sia-sia. Analogi yang mendekati sama.
If you don’t have courage to
confesstry, you get nothing. That’s all.Jika kamu membutuhkannya–entah untuk dirimu sendiri atau orang lain–dan kamu nggak mendapatkannya, apa rasanya?
Kamu kehausan, atau teman di dekatmu yang kehausan. Di depanmu ada sebotol minuman. Kamu bingung, penuh prasangka, dan nggak benari mengambil resiko. Kamu malah memikirkan isinya racun. Kamu bimbang dan nggak pernah meminumnya atau memberi menuman itu ke temanmu. Matilah kehausan.
dapatkah kau melihat sesuatu yang tak terlihat? suatu yang kasat mata?
jadi ingat tentang seorang gadis remaja yang berkata,
“apa sih yang menawan di gadis ini, hingga membuat seseorang jatuh cinta?”
yah, tak perlu cangkir emas memang, jika isinya adalah sesuatu yang berasa asam seperti cuka. Lebih baik memang jika sebuah cangkir tanah liat yang retak namun berisi anggur yang nikmat. Namun akan lebih nikmat jika cangkir-nya adalah cangkir emas yang berisi air anggur yang mampu melepaskan rasa dahaga.
yah, cintailah sebuah ketidaksempurnaan. karena tak ada yang sempurna di dunia ini. Menjadi sesuatu yang tidak sempurna itu adalah sebuah keindahan. Apa yang ada saat ini, mungkin itulah yang terbaik, namun tetaplah mengarahkan anak panah-mu ke langit yang tinggi tanpa batas.
nah lo, jadi panjang amat nih….. sori ngelantur….
wekekekekekekekek……
*kerja, pindah ke Mac
buat manas-manasin Miyu*…
…
*jadi pengen dialog ala felem jadul setelah liat komen di atas*
Tergantung memakai makna melihat secara apa, wahai panjenengan. Mata fisik? Jelas mustahil bagi zat yang kasat mata itu. Atau seperti kata orang–dengan bahasa kiasan dan puitisnya, mata hati?
Jadi ingat pepatah Jawa, “witing tresno jalarani seko kulino” …cinta dimulai dari biasa. Atau…..bisa juga dari mata, wahai panjenengan?
Benar, wahai panjenangan yang bijak. Pilihan ada karena ketidaksempurnaan. Bukankah kesempurnaan adalah utopia, sehingga jika selalu sempurna maka dunia ini tidaklah nyata fana, dan berupa utopia belaka?
Yes, redefining beauty, indeed.
Y mau diakui atau ga diakui, mmg “gelas bening” lebih banyak dipilih dan “dipercaya” dpd gelas “berwarna” ( merah, ijo, itam gitu loh
) karena bisa dilihat isinya dari luar…
Tapi tetap aja prinsip suka duka “gelas bening” berlaku..kLo daLamnya mmg hitam keijoan ( racun ), ya lgsg keliatan BD..kLo gelas berwarna, mmg tidak belum bisa dipercaya isinya.,nah disitulah letak apakah peminumnya ( baca : kaum adam ) berani mencoba atau tidak..kLo beruntung, dia akan mendapat madu yg termanis..
Nah, daripada ada masalah gelas2an, mari kita sama2 pecahkan gelas biar ramai ya, biar mengaduh sampai gaduh
Kutip-mengutip lagi ..
.”Cinta Sakral dan Duniawi, adalah sebuah kiasan. Perempuan yang berpakaian diyakini merepresentasikan kesia-siaan duniawi dan cinta materialistik; sedangkan perempuan yang telanjang mewakili cinta dalam tingkatan yang jauh lebih tinggi dan murni.”
Sacred and Profane Love” (1515 M) by Titian (Tiziano Vecellio)Ξ
Cuma terinspirasi di ibarat “perempuan berpakaian dan telanjang…”nya bahwa buat saya, perempuan akan lebih terlihat jika dia bisa menggabungkan antara “telanjang” fisik ataupun kepribadiannya…
Telanjang fisik, jika dia berani menanggalkan segala atribut “gelas2″ makeupnya and be natural..She knows media product is a fake and big crime for all girls and dun want to be too much depending on it!
Telanjang psikis, jika dia berani jujur menunjukkan kepada dirinya sendiri dan lingkungannya bahwa ‘inilah saya..’ tanpa mau mmbentuk suatu imagenya sama dengan orang lain.
XOXO